Tampilkan postingan dengan label Brandon Sanderson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brandon Sanderson. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2017

(Review) Reckoners Trilogy #3 - Calamity by Brandon Sanderson.

- Judul: Calamity.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 3 (Tiga).
- Pengarang: Brandon Sanderson.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Penyunting: Lisa Indriyana.
- Penerbit: Noura Books.
- Tebal: 574 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-166-9
- Rating: 5/5 stars.

- Review:

Kehidupan setelah Calamity tidak lah seterang cahayanya. Dunia kini porak poranda akibat keberadaan para Epik yang saling memperebutkan kekuasaan. Bahkan setelah satu dekade berlalu sejak Calamity muncul. David yang merupakan seorang anggota Reckoners, sekelompok manusia biasa yang berusaha memerangi Epik. kini harus berjuang dengan gigih melanjutkan misi mustahil mereka, yaitu mencoba untuk menyadarkan para Epik dari efek kegelapan yang merasuki pikiran mereka. David sadar, bahwa dengan membunuh para Epik saja, itu tidak akan cukup untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik. David harus berusaha untuk menyadarkan mereka. Tapi bagaimana caranya? David memang memiliki satu teori yang dapat mengusir kegelapan yang dimiliki oleh para Epik. Tapi teori ini baru pernah dia uji kepada satu Epik saja. Apa David benar-benar bisa percaya dengan teorinya tersebut, dan berani kah dia mempertaruhkan nasib teman-teman sesama Reckonersnya demi teorinya ini.

Misi terbaru para Reckoners ini tidaklah mudah. Apalagi sepeninggal Jonathan Paedrus, sang pendiri Reckoners. David pun memeberanikan diri mengambil alih komando untuk memimpin Reckoners. Dan bersama teamnya yang tersisa. David berusaha bangkit. Dan berusaha sekeras mungkin untuk membuktikan teorinya ini terhadap Epik lainnya.

Seri Reckoners ini merupakan peepaduan yang keren banget. Sanderson mampu meramu unsur komik yang terdapat di komik-komik Marvel dan DC menjadi satu kesatuan dengan setting Dystopia yang ciamik. Aku tidak bisa berhenti takjub oleh settingnya, yang berbeda-beda di setiap buku. Kegelapan di New Cago. Glowing in the Dark ala-ala Babilar. Atau pertumbuhan dari Ildithia. Semuanya menakjubkan. Penggambarannya terasa nyata. Serasa menonton film superhero secara langsung. Dan gak mungkin salah adaptasi, seperti film-film adaptasi buku yang sering kita jumpai *ya iyalah... orang terjadinya di otakmu sendiri tif*

Beruntung Noura sudah menerbitkan seluruh trilogy ini dalam waktu berdekatan. Kalau tidak... aku gak yakin aku bakal tahan. Soalnya nagih banget. Salah satu jenis buku yang harus di baca marathon. Kalo gak selesai. Gak bakal tenang lah hidup, gitu. hahahaha... lebay ya? Iya... emang. Karna aku suka banget ama ceritanya. Sebagai pecinta buku, komik, serial dan film superhero. Kalian wajib baca buku satu ini. Terserah kalian bakal menyukainya atau gak pada akhirnya. Yang penting kalian harus mencobanya.

Seri Reckoners memang telah tamat di buku Calamity ini. Tapi akankah cerita ini hanya berakhir di sini. Oh tidaak... Brandon Sanderson telah memastikan itu dengan mengumumkan seri terbarunya yang bernama The Apocalypse Guard akan mengambil setting di parallel universe yang berbeda dengan David. Tetapi tetap mengambil setting setelah Calamity. Bagi yang telah menamatkan seri Reckoners. Sudah pasti seri baru ini masuk kedalam daftar wajib baca. Bagi yg belum membaca seri Reckoners. Tenang saja. Apocalypse Guard akan mengambil cerita yang berbeda dengan Reckoners. TAG konon akan lebih menonjolkan sisi fantasinya ketimbang Reckoners. Dan aku berdoa semoga nanti TAG akan diterjemahkan juga di sini.

*ps: gambar Roti hanyalah pemanis buatan. Diciptakan untuk dimakan olehku. Jadi kalo kalian mau, beli sendiri...

Minggu, 30 Oktober 2016

(Review) The Reckoners Trilogy #2 - Firefight by Brandon Sanderson.

 





- Judul: Firefight.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 2 (Dua).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Editor: Rina Wulandari.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Rating: 5/5 Stars.  
- ISBN: 978-602-385-001-3.



Review:
(((SPOILER ALERT))) Buat yg belum baca buku sebelumnya.








Setelah berhasil mengalahkan Steelheart di buku sebelumnya. David terus melanjutkan misinya membunuh para Epik-Epik yang tak henti-hentinya mendatangi New Cago demi merebut posisi penguasa yang kini kosong. Para Reckoners telah berhasil menyingkirkan para Epik-Epik itu, sampai suatu kejadian membuat David sadar. Bahwa, ketika kelemahan seorang Epik telah terekspose, para Epik tak lebihnya seorang manusia biasa. Mereka juga takut akan kematian.


Setelah kejadian itu, David tak lagi berpikiran sama tentang para Epik. Menurut David, Mereka semua hanyalah korban dari kekuatan mereka sendiri. Dan mungkin saja, para Epik masih bisa diselamatkan dari sifat mereka yang cenderung merusak dan membunuh itu. Kalau saja mereka mau untuk tidak menggunakan kekuatan mereka untuk beberapa lama. Mungkin saja mereka bisa normal, seperti hal nya Prof. Jonathan dan Firefight yang selalu ada dipikiran David. Atau seperti itulah yang David kira.


Jujur saja, di awal-awal cerita, buku ini lumayan lambat. Berbeda dengan buku pertamanya yang beralur cepat. Buku ini perlu penghayatan yang berbeda, begitu aku sudah menemukan kliknya, boom.. aku langsung baca dengan kekuatan super. Dalam waktu setengah hari, buku ini langsung tamat. Dengan ending yang pas menurutku. Walaupun meninggalkan banyak pertanyaan ketika aku selesai membacanya.


Tapi apa gunanya coba kalo sebuah buku yang memiliki sekuel, jika di buku duanya menjawab semua misteri yang terjadi selama buku satu dan duanya. Jadi menurutku sangat wajar kalau endingnya gantung. Asalkan penerbitnya gak lama-lama banget ngeluarin buku ketiganya. Aku sih fine-fine aja.


Setting Firefight kali ini tak hanya berada di New Cago. Tapi kita juga akan berkenalan dengan kota baru bernama Babilar, alias Manhattan. Babilar adalah sebuah kota yang menarik menurutku. Dan iya, Babilar punya Steelheartnya sendiri. Aura kelamnya berbeda dari New Cago. Dan aku suka aura dari Babilar. Berasa kayak nonton bagian awal dari film X-Men yang Future Past itu.


Dan buat karakter barunya... aku rada kurang sreg sih ama beberapa orang. Karena seperti pengulangan karakter gitu. Contohnya kayak Tia dan Val. Yang bakal kalian liat sendiri deh nanti kalo udah baca nanti. Dan aku rindu Cody dan Abraham yang ada di bagian awalnya saja. Semoga mereka dapat porsi lebih banyak di buku ketiga.

Sekuel dari buku ini berjudul Calamity, iya.. seperti nama bintang merah yang berpendar itu. Yang membuat para manusia berubah menjadi Epik. Nah...  kayaknya aku udah kebanyakan nyerocos nih. Jadi segera saja kalian baca sendiri, dan rasakan sendiri gimana keseruannya berpetualang di kota Babilar. 

Sabtu, 22 Oktober 2016

(Review) The Reckoners #1 - Steelheart by Brandon Sanderson.

 




- Judul: Steelheart.  
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 1 (Satu).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).  
- Penerbit: Nourabooks.  
- Penerjemah: Putra Nugroho.   
- Editor: Rina Wulandari   
Tebal: 577 Halaman (Ebook).  
- Beli Via: Play Book.  
- Rating: 5/5 Stars.




- Review:



Ini merupakan buku pertama Brandon Sanderson yang aku baca. Dan aku langsung jatuh cinta dengan tulisan om satu ini. Buku pertama dari trilogi The Reckoners ini menceritakan tentang Sekelompok manusia melawan para Epik. Pertama-tama, biar aku jelaskan dulu apa itu Epik. Epik adalah para manusia terpilih memiliki kekuatan super akibat terkena reaksi dari Calamity. Dan apa pula Calamity itu? Calamity adalah sebuah bintang berwarna merah yang tiba-tiba muncul di langit bumi. Itu adalah satu-satunya bintang paling merah yang terlihat di bumi. Dan setelah kemunculannya, membuat sebagian dari manusia memiliki kekuatan super.


Menurut kalian pasti keren ya kalo bumi dipenuhi oleh para Pahlawan super. Sayangnya, semua Epik yang pernah David temui semuanya adalah penjahat. Tidak ada satu pun Epik yang baik. Semuanya ingin mendominasi, dan para Epik-Epik itu saling melawan satu sama lain demi menguasai satu wilayah tertentu. Dan untuk kota yang didiami oleh David, Newcago. Epik paling berkuasa di sana adalah Steelheart. Seorang Epik berkekuatan super, berkulit baja dan lain-lain. Terdengar seperti Superman ya? Iya... menurutku dia  memang seperti Superman. Tetapi Superman versi jahat, tentunya.


Selama tahun-tahun awal setelah kemunculan Calamity, dunia belumlah sesuram sekarang. Masih banyak manusia yang berusaha melawan para Epik yang melanggar hukum. Setelah peristiwa yang dikenang sebagai Aneksasi, kejadian di mana Steelheart menunjukkan kemurkaannya dengan mengubah seluruh bangunan menjadi baja, kemarahan Steelheart terpancing karena suatu alasan. Dan karena amukan Steelheart, David kehilangan sang Ayah. Dunia di sekeliling David mulai berubah. Orang-orang mulai menyerah. Mereka kini hanya menganggap kejahatan apapun yang diperbuat oleh para Epik seperti bencana alam. Tidak ada Epik yang akan dihukum karena kejahatan mereka. Karena manusia terlalu takut dengan para Epik.


Sepuluh tahun setelah peristiwa Aneksasi. David telah berusia 18 tahun, dan selama 10 tahun itu juga lah David menghabiskan waktu dari hidupnya untuk meneliti semua Epik yang bisa dia tau. David menyelidiki apapun tentang Epik mana pun. Dari kekuatan mereka, sampai dugaan kelemahan dari para Epik itu. Dia melakukan itu demi keinginannya membalaskan kematian sang ayah yang di bunuh oleh Salah satu High Epik. David berusaha keras untuk tujuannya tersebut. Dan salah satu cara agar keinginannya melawan Epik tersebut bisa terwujud. Dia harus bergabung dengan kelompok Reckoners. Satu-satunya kelompok manusia yang masih terus melawan sampai sekarang.


Dari awal buku aku sudah sangat menikmati buku ini. Karna pada dasarnya aku menyukai tema pengguna kekuatan super. Walaupun kali ini pemilik kekutan tersebut adalah para penjahatnya. Plot twistnya ya ampun... dahsyat banget. Dari awal aku sama sekali gak menduga kalau kejadian macam itu bisa terjadi. Syut... tapi ajib bangeet. Pokoknya bikin aku suka banget-banget lah ama seri ini XD.


Awalnya Trilogy Reckoners ini bukanlah wishlist utama ku. Karna tetiba aku dapet buntelan dari Noura berupa Firefight, buku kedua dari trilogy ini. Terpaksalah aku majuin buku ini keposisi teratas di list buku yang harus aku baca. Dan setelah melihat ending seperti ini. Aku merasa bersyukur bisa kenalan ama David yang memiliki selera membuat metafora yang aneh dan amburadul. Megan, si cewek misterius yang membuat David berdebar. Cody si penembak jitu yang penuh kejutan, dengan cara yang lucu. Dan para Epik yang kekuatannya bikin geleng-geleng pala. Huaaah... aku puas dengan buku satu ini. Saatnya melanjutkan petualangan David di buku keduanya, Firrfight.