Tampilkan postingan dengan label Marie Lu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marie Lu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

(Review) Prodigy by Marie Lu.






- Judul: Prodigy.
- Seri: Legend.
- Seri Ke: 2 (Dua).
- Pengarang: Marie Lu.
- Bahasa: Indonesia.
- Penerjemah: Lelita Primadani.
- Tebal: 468 Halaman.
- ISBN: 978-979-433-806-3.
- Rating: 5 of 5 Star.


- Sinopsis:

  Setelah berhasil meloloskan diri dari eksekusi publik, Day yang ditemani oleh June lari ke Las Vegas. Mereka memerlukan bantuan Kelompok Patriot untuk menyembuhkan luka tembak di kaki Day, menemukan Eden, serta menyelundup ke Koloni. Sebagai balas budi, Day dan June harus membantu menyulut pemberontakan rakyat Republik dan membunuh Elector yang baru, Anden. June bersedia melakukan apa pun demi Day, namun instingnya mengatakan bahwa Anden tidaklah sekejam Elector sebelumnya dan rencana pembunuhan ini adalah sesuatu yang salah. Selain itu, ada yang mencurigakan dalam diri Razor, pemimpin Kelompok Patriot. June berusaha membuat Day sepaham dengannya, tapi Day sudah terlanjur digelapkan oleh amarah pada pemerintahan Republik.

Dalam dunia yang kacau balau ini, masing-masing pihak berpegang teguh pada apa yang mereka yakini. Pihak manakah yang pada akhirnya akan menang? Berhasilkah June meyakinkan Day untuk menyabotase rencana pembunuhan Elector? Dan setelah semua ini berakhir, dapatkah June dan Day tetap bersama?


- Review:


Bingung mau ngomong apa (efek baru selesai baca Prodigy) karna akhirnya lumayan mengejutkan. ingin rasanya mengatakan Novel ini keren, tapi ending buku ini membuatku bingung, mau ku ekspresikan seperti apa perasaanku terhadap novel kedua dari seri Legend ini. antara senang, sedih, frustasi dan bingung melebur jadi satu. kenapa kau akhiri buku ini dengan kejadian seperti ini.... kenapa... *guncang2 mba Marie*.

dibuku kedua nya ini, Prodigy masih menyuguhkan cerita melalui sudut pandang pertama dari kedua karakter utama nya, Day dan June. kisah yang mereka tuturkan secara bergantian sangat enak untuk dibaca dan melengkapi satu sama lain dengan cara yang sangat enak. diantara dua sudut pandang ini, aku lebih suka sudut pandang June, walaupun sifat nya agak berlebihan, yaitu selalu mengukur segalanya dengan perkiraannya, dari tinggi, berat, suhu, sampai waktu. tapi sepertinya memang seperti itulah sifatnya, selalu memiliki rencana dimana pun dia berada dan dalam keadaan seperti apapun. aku sudah lumayan familiar dengan gaya pandang seperti ini, karna tak hanya June satu-satu nya cewe jenius yang pernah kubaca. dan karakter-karakter seperti inilah yang kusuka dari sebuah cerita, karakter orang yang jenius, kuat dan menonjol.

kisah percintaan mereka juga sekarang lebih di tonjolkan dibandingkan buku pertamanya. walaupun hubungan mereka masih kurang jelas, alias masih HTS-an. tapi sudah jelas mereka saling menyukai satu sama lain tanpa ragu. tapi dengan hadirnya sang Elector baru yang muda dan tampan, dan teman sehidup semati nya Day yang telah menjelma menjadi siluman *uhuk* gadis yang cantik. apakah hubungan mereka masih bisa berjalan mulus.

tidak seperti novel dystopia lain, yang menampilkan sosok Pimpinan tertinggi nya lah yang jahat sampai akar-akarnya. di seri Legend, justru sang Elector baru lah yang ingin membuat perubahan atau Revolusi untuk Republik yang telah kacau balau. tentu saja semuanya dengan bantuan Day dan June. masalah wabah juga akhirnya sudah bisa ku mengerti sedikit demi sedikit, walau pun hanya disinggung di awal-awal saja. tapi lumayan jelas. ternyata Republik sadis ye... beruntung wabah yang menyebar itu bukan wabah yang menyebabkan manusia berubah jadi zombie. tapi tetap aja wabahnya mematikan, kalo aja mereka tak memiliki vaksin nya, bisa gawat tuh, dan kalau penelitian orangtua June benar, wabah ini akan menggila kalau tak segera di tanggulangi.





kalau kalian sudah baca Legend, kalian wajib baca buku keduanya ini, apalagi disini intrik antara Day dan pemerintah semakin memanas dan akhirnya mereka tau, siapa musuh siapa kawan. dan kalau kalian adalah penyuka novel bertema Dystopia, tak ada salahnya untuk mencoba seri ini yang memiliki tokoh utama dengan karakter yang kuat dan gak begitu bikin gemes waktu bacanya. ingin membaca review Legend bikinanku, bisa langsung meluncur ke sini.   nah, sampai disini dulu cuap-cuap ku yang agak aneh ini, dan selamat hari pertama dibulan Desember XD.




Selasa, 19 Februari 2013

(Review) Legend (Los Angeles 2130) by Marie Lu.




- Judul: Legend (Los Angeles 2130).
- Seri: Legend.
- Seri ke: 1 (Satu).
- Sekuel: Prodigy.
- Pengarang: Marie Lu.
- Bahasa: Indonesia.
- Penerjemah: Lelita Primadani.
- Penerbit: Penerbit Mizan (Mizan Fantasi).
- Tebal: 382 Halaman.
- ISBN: 978-979-433-724-0.


- Sinopsis:

  Tahun 2130. Amerika Serikat telah terbagi menjadi dua wilayah: Republik di Barat dan Koloni di Timur. Keduanya menghadapi perang saudara yang tak ada habisnya. Seakan itu belum cukup, rakyat Republik di rumah-rumah kumuh harus menghadapi wabah penyakit dan konflik kesenjangan sosial.

Day, warga miskin Republik, mempunyai puluhan catatan kriminal dan tak punya rekaman sidik jari maupun potret diri. Selama lima tahun, pemuda itu menjadi buronan paling dicari, terlebih setelah dia dituduh membunuh Metias, salah satu tentara militer Republik.

June, adik perempuan Metias dari ranah elite dan calon prajurit militer, bersumpah untuk memburu Day demi membalas dendam atas kematian kakaknya, sekaligus mengabdi pada Republik. Namun, kenyataan berkata lain saat June dan Day saling jatuh cinta. Bagaimana hubungan keduanya berlanjut? Dan apakah yang akan dilakukan June untuk menghadapi intrik dengan Day serta negaranya?.


- Review:

 akhir-akhir ini kayak nya bacaan ku genre nya Dystopia mulu ya... apa gara-gara aku ikut-ikutan terseret sama musim, karna sekarang kayak nya di indonesia lagi musim Dystopia semenjak Hunger Games keluar, para penerbit indonesia lagi gencar-gencar nya ngeluarin novel yang bertema kan masa depan yang suram seperti yang terdapat di novel ini. Day adalah buronan paling di cari di Los Angeles pada tahun 2130 *wuiw... masih seabad lagi* dia di kenal karna sering merampok uang, merusak fasilitas tempur Republik, dan terakhir... dianggap sebagai pembunh seorang kapten bernama Metias Iparis. Benarkah... bukan nya selama ini Day bahkan tak pernah melukai korban-korban nya, paling-paling mereka cuman di buat pingsan, tapi ini kenapa? apa Day tidak sengaja atau memang bukan dia pelaku nya.

di lain pihak, ada June Iparis, adik dari Metias, yang sangat bernafsu untuk memburu Day yang dia anggap sebagai pembunuh yang telah membunh kakak nya yang tercinta. dia berkelana kesana-kemari untuk mencari Day, bahkan menyamar sebagai gelandangan untuk mencari info tentang Day. di jalanan dia bertemu dua orang remaja yang menolong nya dari kejaran orang-orang yang marah. June terpesona pada sang pria, tapi ternyata pria itu adalah...

novel ini memakai dua PoV (sudut pandang) yaitu sudut pandang Day *tentu nya*, dan sudut pandang June. banyak yang bilang kalau sudut pandang nya kurang berbeda karna June dianggap gak begitu feminine. ya iya lah, tentara mana ada sih yang gak tomboy, apalagi untuk ukuran orang yang bisa matahin tangan orang dengan mudahnya. kalau aku sih bodo amat, aku cukup enjoy dengan dua PoV ini, apalagi dua pov nya di tulis dengan dua jenis huruf yang berbeda, jadi gak sulit-sulit amat lah ngebedain ini pov siapa- itu pov siapa. cerita nya juga ngalir, jadi menurutku gak ada yang ngeganggu.  

akhir dari buku ini juga gak begitu menggantung, Marie Lu membuat buku ini berakhir ditempat yang tepat. kisah cinta nya juga keren, walaupun gak nyangka ternyata Thomas itu tipe orang yang menyeringai girang waktu ngelukain orang, tapi mana ada ya antagonis yang gak gini, hahaha... aku juga kurang ngerti masalah virus memirus yang terdapat di dalam novel ini, yah semoga nanti aku ngerti pas baca sekuelnya. bertambah satu lagi seri yang harus ku koleksi sampai lengkap, aku nunggu banget lajutan novel Legend ini yang berjudul Prodigy. entah kapan mizan akan nerbitin seri ke dua dari novel ini, yah... kita tunggu saja.