Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Desember 2017

(Review) Magnus Chase and the Gods of Asgard, The Ship of the Dead #3 by Rick Riordan.

- Judul: The Ship of the Dead.
- Seri: Magnus Chase and the Gods of Asgard.
- Seri ke: 3 (Tiga) (Tamat).
- Pengarang: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
-Penerjemah: Reni Indardini.
- Penerbit: Nourabooks (Mizan Fantasi).
- Tebal: 512 Halaman.
- ISBN:
9786023853793
- Rating: 5 of 5 Star.

- Review:

Halooo.. Selamat datang di review buku Om Rick lainnya. Kali ini aku akan mengubek buku terakhir dari seri Magnus Chase and the Gods of Asgard, yang berjudul Ship of the Dead. Setelah beberapa bulan gak berhasil menghabiskan buku. Akhirnya bulan ini aku berhasil juga menamatkan seri ini. Seri yang sangat aku nikmati tiap lembar dan kata-katanya.

Oke.. Kalian pasti sudah tau aku kayak apa kalo udah sama buku Om Rick. Tentu aja aku bakal bilang suka banget. Dan itu sudah biasa. Karena Rick Riordan adalah author novel fantasi favoritku. Dan dalam peringkat favoritku. Beliau ada di urutan pertama. Hehe...

Walaupun aku sangat menyukai semua karangan Om Rick. Tapi gak lantas semuanya juga aku suka pake banget banget. Sejauh ini ending seri yang Om Rick tulis cuman dua ng aku sukai. Pertama seri PJO. Iya... Itu adegan pertarungannya keren banget. Berasa banget ngos-ngosannya mereka dalam menghadapi musuh utama mereka. Yaitu bangsa Titan. Dan seri keduanya adalah seri Magnus ini. Karena Di seri Magnus ini. Akhirnya aku ngerasain lagi susah payahnya perjuangan dalam peperangan. Walaupun singkat *iya.. Gak nyampe 500 halaman itu singkat namanya.* Tapi padat dan memuaskan gitu. Aku gak akan membocorkan pada kalian apa yang akan terjadi. Tapi satu hal yang aku bisa kasih tau. Seri ini sangat sangat memuaskan. Aku selalu takut setiap Om Rick bikin seri baru. Gimana kalau aku gak suka? Tapi pemikiran itu biasanya langsung hilang begitu aku membaca buku itu. Wkwkwk... Iya. Aku tau.. Aku cewe yang gampang jatuh cinta sama sesuatu apapun. Tapi walaupun begitu. Bukan berarti aku bakalan langsung menyukai segalanya secara membabi buta. Buktinya, walau aku doyan nonton serial tv atau film yang dark. Gak berarti aku bakal suka baca novelnya. Bukan karena buku itu gak bagus ya... Tapi karena otak ku suka berasap kalo baca yang agak berat dikit *dasar mental anak kecil*. Eh.. Dari tadi aku ngelantur kemana-mana ya? Hahaha... Sory. Tapi dari awal aku emang gak ada niatan buat review spoiler sih

Aku cuman mau curhat perasaanku pas selesai baca Magnus. Jadi semua sekarang terserah pada kalian yang masih aja bertahan membaca curhatan panjang lebarku ini. Buat kalian yang belum mengenal Magnus. Aku minta sama kalian, untuk mencoba kenalan dulu sama si cowok dodol berambut pirang ini. Kalau selera kalian sama seperti aku. Pasti kalian akan menyukai Magnus. Dan jika kalian sudah mengenal Magnus, dan memang suka sama dia. Alasan apalagi yang membuat kalian belum membaca buku terakhirnya ini? *lalu dikeplak. Dan buat kalian yang sudah mengenal Magnus. Dan tidak menyukainya. Aku hanya bisa pasrah. Selera setiap orang pasti berbeda. Aku gak bisa memaksakan. Jadi... Kalian termasuk yang mana nih?

Sabtu, 29 Juli 2017

(Review) Glass Sword by Victoria Aveyard

- Judul: Glass Sword.
- Seri: Red Queen.
- Seri ke: 2 (Dua).
- Pengarang: Victoria Aveyard.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Penyunting: Jia Effendie.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Tebal: 601 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-168-3

- Review:

(( Peringatan... review mengandung spoiler buku sebelumnya))

Setelah berbulan-bulan aku tunda. Akhirnya ku tamatkan juga buku ini dengan perasaan lega. Sungguh buku yang menarik.

Mare Barrow hanya lah seorang darah merah biasa beberapa bulan yang lalu. Semenjak dia bekerja untuk kerajaan perak. Mare menyadari satu hal yang berbeda pada dirinya. Yaitu memiliki kekuatan super layaknya seorang perak. Mungkin kah itu terjadi?

Setelah belajar pada seorang perak yang baik padanya, Mare pun menyadari satu hal. Bahwa dia bukan lah satu-satunya orang yang memiliki kelainan ini. Dia tidaklah sendirian. Masih banyak pemilik darah baru lain di luar sana yang juga memiliki kekuatan sepertinya. Berdarah merah, dan lebih kuat dari perak. Menjadi darah baru bukanlah hal yang mudah. Mare pun dibuat ke susahan oleh status barunya itu, merah sekaligus perak. Dia pun melarikan diri dari kerjaan yang ingin membunuhnya.

Sebelumnya di buku Red Queen, kita diajak untuk  mempelajari tata cara bagaimana seorang bangsawan perak seharusnya bersikap. Sedangkan di buku keduanya ini kita diajak jalan-jalan keliling negeri untuk menemukan para darah baru, suka duka mengiringi perjalanan Mare bersama para pejuang merah.

Pengumpulan darah baru sangat mengasyikkan, banyak orang dengan kekuatan baru, dan berbeda dari para perak. Kekuatan unik mereka mampu membuat laju bacaku meningkat. Ya walaupun tetep aja sih pada akhirnya aku baca ini lama banget baru kelar. Hehehehe...

Sebagai pecinta kekuatan super, aku sangat menikmati membaca Glass Sword, walaupun ada sebagian besar yang bikin aku empet karena karakternya terlalu membingungkan. Tapi aku mencoba bersabar, dan hanya fokus ke alur cerita. Buku yang menarik, sungguh...

Sabtu, 18 Februari 2017

(Review) Trials of Apollo #1 - The Hidden Oracle by Rick Riordan

- Judul: The Hidden Oracle.
- Seri: Trials of Apollo.
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Penulis: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Penyunting: Yuli Pritania.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Tebal: 464 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-230-7.
- Rating: 5/5 Stars.

- Review:

Iyaa... tau. Aku ngereview buku Om Rick lagi. Padahal kalian sudah tau kalo aku bakal muji-muji dia. Tapi... kalian salah kali ini. Setelah aku menyelesaikan buku ini. Aku malah pengen nyekek tuh Om. Tega bener ngorek-ngorek luka lama orang. Aku gak mau bilang apa sebabnya aku pengen nyekek si Om. Karena bakal spoiler parah. Jadi kalau kalian ingin tau apa yang membuat aku kesel. Baca aja sendiri.

Eeeeh... Jangan pergi dulu. Aku nggak bilang kalo buku ini gak bagus lho ya! Aku emang kesel, tapi bukan berarti aku gak suka *halah... tifa ribet*. Aku malah suka banget banget sama buku ini. Kenapa kalian bilang? Oke ini dia alasannya.

Setelah seri Heroes of Olympus berakhir. Kalian pasti berpikir, akhirnya perjalanan Percy Jackson dkk... berakhir juga. Dan akhirnya mereka bisa beristirahat dengan tenang. Wut... kalian salah. Di seri terbaru karya Rick Riordan kali ini, Rick mengambil tema yang berbeda dari biasanya. Kalau biasanya karakter utamanya selalu para Demigod, alias anak-anak para Dewa. Kali ini karakter utamanya adalah seorang Dewa. Dan Dewa itu adalah Apollo. Iyaaa... Dewa Apollo yang itu. Sang Dewa Matahari, Musik, Pengobatan, Panahan dll... itu. Dewa sok keren dan narsis ini, akhirnya tersandung juga. Berkat salah saorang cucunya (kalau kalian sudah membaca Seri Heroes of Olympus, kalian tau siapa yang aku maksud). Apollo mendapatkan kemarahan dari Ayahnya, Dewa Zeus, sang Dewa langit. Dan di kutuk menjadi manusia biasa dan dilemparkan langsung dari Olympus ke tempat sampah.

Sudah cukup apes kah seorang Dewa matahari dijatuhkan dari langit dan mendarat ke tempat sampah? Jawabannya belum. Ketika terjatuh, Apollo menyadari satu hal. Dia tak bisa terbang, tidak juga bisa berubah wujud. Padahal biasanya dirinya dapat dengan mudah berubah bentuk. Dan semuanya langsung menghantam dirinya. Apollo tak lagi menyandang gelar dewanya. Dia terjatuh sebagai manusia fana biasa, bernama Lester Papadopoulos.

Setelah menyadari kondisinya, Apollo terpaksa harus mencari bantuan. Dan cuman ada satu tempat di dekat sini yang menyediakan itu. Camp Half-Blood, alias perkemahan Blasteran.

Setelah seri PJO. Camp Half-Blood sangat jarang ditampilkan lagi. Karna di seri HoO, Ketujuh Demigod mesti jalan-jalan lintas negara demi merampungkan ramalan mereka. Jadi mereka hanya bisa sebentar saja berada di Camp. Dan buat kalian yang merindukan suasana Camp Half-Blood, kalian akan merasakan sensasi pulang kerumah di seri ini. Karena kita bakalan di manjakan dengan pemandangan Camp yang sudah sangat kalian rindukan. Kita bakalan bertemu dengan beberapa pekemah lama, dan para pekemah baru yang aku belum sempat hapalin nama-namanya ini.

Jadi bagaimana? Akankah kalian sanggup menghadapi kegalauan sang Dewa. Segera lah adopsi buku terbaru karya Rick Riordan ini. Dan rasakan sendiri sensasinya.    

Kamis, 09 Februari 2017

(Review) Reckoners Trilogy #3 - Calamity by Brandon Sanderson.

- Judul: Calamity.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 3 (Tiga).
- Pengarang: Brandon Sanderson.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Penyunting: Lisa Indriyana.
- Penerbit: Noura Books.
- Tebal: 574 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-166-9
- Rating: 5/5 stars.

- Review:

Kehidupan setelah Calamity tidak lah seterang cahayanya. Dunia kini porak poranda akibat keberadaan para Epik yang saling memperebutkan kekuasaan. Bahkan setelah satu dekade berlalu sejak Calamity muncul. David yang merupakan seorang anggota Reckoners, sekelompok manusia biasa yang berusaha memerangi Epik. kini harus berjuang dengan gigih melanjutkan misi mustahil mereka, yaitu mencoba untuk menyadarkan para Epik dari efek kegelapan yang merasuki pikiran mereka. David sadar, bahwa dengan membunuh para Epik saja, itu tidak akan cukup untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik. David harus berusaha untuk menyadarkan mereka. Tapi bagaimana caranya? David memang memiliki satu teori yang dapat mengusir kegelapan yang dimiliki oleh para Epik. Tapi teori ini baru pernah dia uji kepada satu Epik saja. Apa David benar-benar bisa percaya dengan teorinya tersebut, dan berani kah dia mempertaruhkan nasib teman-teman sesama Reckonersnya demi teorinya ini.

Misi terbaru para Reckoners ini tidaklah mudah. Apalagi sepeninggal Jonathan Paedrus, sang pendiri Reckoners. David pun memeberanikan diri mengambil alih komando untuk memimpin Reckoners. Dan bersama teamnya yang tersisa. David berusaha bangkit. Dan berusaha sekeras mungkin untuk membuktikan teorinya ini terhadap Epik lainnya.

Seri Reckoners ini merupakan peepaduan yang keren banget. Sanderson mampu meramu unsur komik yang terdapat di komik-komik Marvel dan DC menjadi satu kesatuan dengan setting Dystopia yang ciamik. Aku tidak bisa berhenti takjub oleh settingnya, yang berbeda-beda di setiap buku. Kegelapan di New Cago. Glowing in the Dark ala-ala Babilar. Atau pertumbuhan dari Ildithia. Semuanya menakjubkan. Penggambarannya terasa nyata. Serasa menonton film superhero secara langsung. Dan gak mungkin salah adaptasi, seperti film-film adaptasi buku yang sering kita jumpai *ya iyalah... orang terjadinya di otakmu sendiri tif*

Beruntung Noura sudah menerbitkan seluruh trilogy ini dalam waktu berdekatan. Kalau tidak... aku gak yakin aku bakal tahan. Soalnya nagih banget. Salah satu jenis buku yang harus di baca marathon. Kalo gak selesai. Gak bakal tenang lah hidup, gitu. hahahaha... lebay ya? Iya... emang. Karna aku suka banget ama ceritanya. Sebagai pecinta buku, komik, serial dan film superhero. Kalian wajib baca buku satu ini. Terserah kalian bakal menyukainya atau gak pada akhirnya. Yang penting kalian harus mencobanya.

Seri Reckoners memang telah tamat di buku Calamity ini. Tapi akankah cerita ini hanya berakhir di sini. Oh tidaak... Brandon Sanderson telah memastikan itu dengan mengumumkan seri terbarunya yang bernama The Apocalypse Guard akan mengambil setting di parallel universe yang berbeda dengan David. Tetapi tetap mengambil setting setelah Calamity. Bagi yang telah menamatkan seri Reckoners. Sudah pasti seri baru ini masuk kedalam daftar wajib baca. Bagi yg belum membaca seri Reckoners. Tenang saja. Apocalypse Guard akan mengambil cerita yang berbeda dengan Reckoners. TAG konon akan lebih menonjolkan sisi fantasinya ketimbang Reckoners. Dan aku berdoa semoga nanti TAG akan diterjemahkan juga di sini.

*ps: gambar Roti hanyalah pemanis buatan. Diciptakan untuk dimakan olehku. Jadi kalo kalian mau, beli sendiri...

Kamis, 12 Januari 2017

(Review) Magnus Chase #2 - Hammer of Thor by Rick Riordan.






- Judul: Hammer of Thor.  
- Seri: Magnus Chase and the Gods of Asgard.
- Seri ke: 2 (Dua).  
- Penulis: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.  
- Penyunting: Yuke Ratna P.  
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).  
- Tebal: 590 Halaman.  
- ISBN: 978-602-385-183-6.






- REVIEW:



~~~~~~Spoiler untuk yang belum membaca buku sebelumnya~~~~~~








Masalah nampaknya adalah sahabat sejati bagi Demigod mana pun. Gak peduli mereka Demigod Yunani kek, Romawi, bahkan Nordik.  Semuanya sama. Semuanya sama-sama bernasib sial. Magnus Chase adalah seorang Einherji, alias Roh pendekar pasukan abadi Dewa Odin. Eh! Roh? Iya... kalian gak salah liat. Magnus memang sudah mati. Setelah kematiannya yang heroik di buku pertamanya. Magnus diangkat menjadi seorang Einherji dan di bawa ke sebuah Hotel bernama Valhalla. Hotel di mana para pendekar Odin berkumpul sebelum terjadinya Ragnarok, sebutan untuk Kiamat versi bangsa Nordik.


Ngapain aja mereka di sana? Apakah kerjaan mereka cuma bersantai sambil ongkang-ongkang kapak? Tidak... para Einherjar tidak bisa hanya berdiam diri saja. Di hotel, setiap hari adalah latihan perang. Bahkan pelukan saja bisa mematikan. Saling membunuh adalah kegiatan rutin di hotel setiap harinya. Dan berapa kalipun mereka mati di hotel, mereka tetap akan kembali hidup beberapa jam kemudian. Lantas apa yang perlu ditakutkan oleh seorang Einherjar seperti Magnus. Banyak...


Mari kita usut, semuanya bermula karena sebuah undangan pernikahan yg disebar oleh Loki. Bagaimana bisa sebuah undangan mengacaukan hari-hari indah seorang Einherji macam Magnus? Dan apa pula hubungan antara undangan itu dan palu Thor yg hilang. Semua masalah ini diramu oleh Rick Riordan dengan lumayan Epik di buku Hammer of Thor ini. 


Menurutku buku kedua ini lebih bagus ketimbang buku pertamanya. Kenapa? Karena aku sudah mengenal Magnus, Sam, Blitz dan Hearth. Tapi ini juga karna si karakter barunya yang eksentrik. Oh iya... jangan lupa dengan Jack, si pedang ajaib yang doyan nyanyi itu. Perpaduan antara aksi dan humor memang selalu menjadi ramuan utama dari buku-buku Rick Riordan. Dia selalu berhasil membuat para Dewa-Dewi ini menunjukkan ketidak sempurnaannya. Sungguh... para dewa-dewa Nordik ini... gak ada bagus-bagusnya. Masih mending Dewa-Dewi Yunani deh. Mereka masih bisa dicintai. Sedangkan bangsa Asgard? Meh...


Ending dari buku ini seperti biasa... menampakkan cliffhanger. Khas Om Rick sekali pokoknya. Apalah buku-buku ini tanpa cliffhanger. Seolah-olah sayur tanpa garam, lah. Wkwkwkwk... sampai berjumpa di buku selanjutnya Magnus. Dan selamat bergabung di team. Wahai karakter baru. Aku gak sabar buat ketemu kalian lagi.

Senin, 14 November 2016

(Review) Red Queen #1 by Victoria Aveyard.






- Judul: Red Queen.  
- Seri: Red Queen.  
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Pengarang: Victoria Aveyard.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).  
- Penerjemah: Shinta Dewi.  
- Editor: Jia Effendi  
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).  
- Tebal: 525 Halaman (Ebook).  
- ISBN: 978-602-385-062-4.   
- Rating: 5/5 Stars.


- Review:



Buku aneh, kalau kalian bukan penyuka plot twist tak terduga dan akhir yang menggantung. Dianjurkan untuk tidak membaca Red Queen ini.
Ketika dunia memiliki tak hanya satu warna darah, melainkan dua. Yang satu berwarna merah seperti kita, Manusia biasa. Dan yang satu lagi perak, yang konon dipercayai sebagai keturunan para dewa. Para darah perak hampir selalu memiliki kekuatan super, entah itu manipulasi elemen seperti air, api dan besi. Memiliki tangan besar dengan kekuatan penghancur super. Bahkan sampai menguasai otak orang lain. Dan beragam kekuatan lainnya.


Di dunia seperti ini lah Mare Burrow hidup sebagai seorang pencuri berdarah merah. Walaupun dia adalah seorang merah, dia memiliki kekuatan, Kaki yang lebih lincah daripada kebanyakan orang, dan tangannya yang cepat merupakan kombinasi maut bagi para korbannya. Tetapi pencuri bukanlah sebuah pekerjaan yang dapat di akui oleh pemerintahan, dan dia juga bukanlah seorang murid magang. Dan itu membuat Mare terpaksa menyiapkan dirinya untuk mengikuti wajib militer, dan dikirim ke medan perang. Mare telah pasrah dengan keadaannya itu. Toh ayah dan ibunya masih memiliki sang adik, untuk berkerja. Tetapi ketika sahabat dan adiknya terlibat dalam sebuah masalah, seketika itu pula lah dunia Mare menjadi kacau balau.


Setelah di bingungkan dengan masalah-masalah yang menghampiri hidupnya. Pertemuannya dengan seorang pemuda bernama Cal memberinya sedikit harapan. Dalam waktu singkat Mare mendapatkan sebuah pekerjaan yang tidak pernah dia sangka. Yaitu berkerja di istana perak. Yah... walaupun hanya menjadi pembantu. Tapi Mare senang akan hal itu, tapi seolah takdir tak ingin membuat Mare tenang. Sesuatu  yang mengejutkan terjadi kembali tepat di saat pemilihan calon Ratu selanjutnya.


Waktu awal-awal aku membaca buku ini, aku sempat bingung. Kok ya kayak remeh banget gitu konfliknya. Si Mare kok kayak tergesa-gesa banget ikut dalam kelompok pemberontakan. Karena waktu di awal, aku melihat para kaum perak ini gak beringas-beringas amat kok ampe di musuhin sedemikian rupa sama si Mare. Memang sih wajib perang itu lebih banyak memakan korban di kalangan Merah ketimbang Perak. Tapi ya namanya perang mau gimana lagi gitu.
Baca-baca-baca... waktu aku sampai di beberapa bab terakhir, aku seperti ditampar oleh plot twist tak terduganya. Langsung saja aku menarik kembali perkataanku tentang konflik yang remeh itu. Seperti kata-kataku di awal tadi. Buku ini adalah sebuah buku yang aneh, aku yang biasanya dengan mudahnya jatuh cinta sama karakter di dalam novel, di buku ini berhasil di bikin gak suka sama siapa-siapa. Karena mengutip dari kata-kata yang sering diucapkan Mare dipikirannya, setiap orang bisa mengkhianati siapa pun. Aku gak bisa suka sama mereka, karena takut dikhianati *lebay mode on*. tapi setakut-takutnya aku sama plot twistnya yang kelewat sedap ini, harus aku akui kalo aku berhasil di bikin suka banget sama bukunya. Jadi apakah kalian masih mau mencoba buku yang satu ini?

Minggu, 30 Oktober 2016

(Review) The Reckoners Trilogy #2 - Firefight by Brandon Sanderson.

 





- Judul: Firefight.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 2 (Dua).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Editor: Rina Wulandari.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Rating: 5/5 Stars.  
- ISBN: 978-602-385-001-3.



Review:
(((SPOILER ALERT))) Buat yg belum baca buku sebelumnya.








Setelah berhasil mengalahkan Steelheart di buku sebelumnya. David terus melanjutkan misinya membunuh para Epik-Epik yang tak henti-hentinya mendatangi New Cago demi merebut posisi penguasa yang kini kosong. Para Reckoners telah berhasil menyingkirkan para Epik-Epik itu, sampai suatu kejadian membuat David sadar. Bahwa, ketika kelemahan seorang Epik telah terekspose, para Epik tak lebihnya seorang manusia biasa. Mereka juga takut akan kematian.


Setelah kejadian itu, David tak lagi berpikiran sama tentang para Epik. Menurut David, Mereka semua hanyalah korban dari kekuatan mereka sendiri. Dan mungkin saja, para Epik masih bisa diselamatkan dari sifat mereka yang cenderung merusak dan membunuh itu. Kalau saja mereka mau untuk tidak menggunakan kekuatan mereka untuk beberapa lama. Mungkin saja mereka bisa normal, seperti hal nya Prof. Jonathan dan Firefight yang selalu ada dipikiran David. Atau seperti itulah yang David kira.


Jujur saja, di awal-awal cerita, buku ini lumayan lambat. Berbeda dengan buku pertamanya yang beralur cepat. Buku ini perlu penghayatan yang berbeda, begitu aku sudah menemukan kliknya, boom.. aku langsung baca dengan kekuatan super. Dalam waktu setengah hari, buku ini langsung tamat. Dengan ending yang pas menurutku. Walaupun meninggalkan banyak pertanyaan ketika aku selesai membacanya.


Tapi apa gunanya coba kalo sebuah buku yang memiliki sekuel, jika di buku duanya menjawab semua misteri yang terjadi selama buku satu dan duanya. Jadi menurutku sangat wajar kalau endingnya gantung. Asalkan penerbitnya gak lama-lama banget ngeluarin buku ketiganya. Aku sih fine-fine aja.


Setting Firefight kali ini tak hanya berada di New Cago. Tapi kita juga akan berkenalan dengan kota baru bernama Babilar, alias Manhattan. Babilar adalah sebuah kota yang menarik menurutku. Dan iya, Babilar punya Steelheartnya sendiri. Aura kelamnya berbeda dari New Cago. Dan aku suka aura dari Babilar. Berasa kayak nonton bagian awal dari film X-Men yang Future Past itu.


Dan buat karakter barunya... aku rada kurang sreg sih ama beberapa orang. Karena seperti pengulangan karakter gitu. Contohnya kayak Tia dan Val. Yang bakal kalian liat sendiri deh nanti kalo udah baca nanti. Dan aku rindu Cody dan Abraham yang ada di bagian awalnya saja. Semoga mereka dapat porsi lebih banyak di buku ketiga.

Sekuel dari buku ini berjudul Calamity, iya.. seperti nama bintang merah yang berpendar itu. Yang membuat para manusia berubah menjadi Epik. Nah...  kayaknya aku udah kebanyakan nyerocos nih. Jadi segera saja kalian baca sendiri, dan rasakan sendiri gimana keseruannya berpetualang di kota Babilar. 

Sabtu, 22 Oktober 2016

(Review) The Reckoners #1 - Steelheart by Brandon Sanderson.

 




- Judul: Steelheart.  
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 1 (Satu).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).  
- Penerbit: Nourabooks.  
- Penerjemah: Putra Nugroho.   
- Editor: Rina Wulandari   
Tebal: 577 Halaman (Ebook).  
- Beli Via: Play Book.  
- Rating: 5/5 Stars.




- Review:



Ini merupakan buku pertama Brandon Sanderson yang aku baca. Dan aku langsung jatuh cinta dengan tulisan om satu ini. Buku pertama dari trilogi The Reckoners ini menceritakan tentang Sekelompok manusia melawan para Epik. Pertama-tama, biar aku jelaskan dulu apa itu Epik. Epik adalah para manusia terpilih memiliki kekuatan super akibat terkena reaksi dari Calamity. Dan apa pula Calamity itu? Calamity adalah sebuah bintang berwarna merah yang tiba-tiba muncul di langit bumi. Itu adalah satu-satunya bintang paling merah yang terlihat di bumi. Dan setelah kemunculannya, membuat sebagian dari manusia memiliki kekuatan super.


Menurut kalian pasti keren ya kalo bumi dipenuhi oleh para Pahlawan super. Sayangnya, semua Epik yang pernah David temui semuanya adalah penjahat. Tidak ada satu pun Epik yang baik. Semuanya ingin mendominasi, dan para Epik-Epik itu saling melawan satu sama lain demi menguasai satu wilayah tertentu. Dan untuk kota yang didiami oleh David, Newcago. Epik paling berkuasa di sana adalah Steelheart. Seorang Epik berkekuatan super, berkulit baja dan lain-lain. Terdengar seperti Superman ya? Iya... menurutku dia  memang seperti Superman. Tetapi Superman versi jahat, tentunya.


Selama tahun-tahun awal setelah kemunculan Calamity, dunia belumlah sesuram sekarang. Masih banyak manusia yang berusaha melawan para Epik yang melanggar hukum. Setelah peristiwa yang dikenang sebagai Aneksasi, kejadian di mana Steelheart menunjukkan kemurkaannya dengan mengubah seluruh bangunan menjadi baja, kemarahan Steelheart terpancing karena suatu alasan. Dan karena amukan Steelheart, David kehilangan sang Ayah. Dunia di sekeliling David mulai berubah. Orang-orang mulai menyerah. Mereka kini hanya menganggap kejahatan apapun yang diperbuat oleh para Epik seperti bencana alam. Tidak ada Epik yang akan dihukum karena kejahatan mereka. Karena manusia terlalu takut dengan para Epik.


Sepuluh tahun setelah peristiwa Aneksasi. David telah berusia 18 tahun, dan selama 10 tahun itu juga lah David menghabiskan waktu dari hidupnya untuk meneliti semua Epik yang bisa dia tau. David menyelidiki apapun tentang Epik mana pun. Dari kekuatan mereka, sampai dugaan kelemahan dari para Epik itu. Dia melakukan itu demi keinginannya membalaskan kematian sang ayah yang di bunuh oleh Salah satu High Epik. David berusaha keras untuk tujuannya tersebut. Dan salah satu cara agar keinginannya melawan Epik tersebut bisa terwujud. Dia harus bergabung dengan kelompok Reckoners. Satu-satunya kelompok manusia yang masih terus melawan sampai sekarang.


Dari awal buku aku sudah sangat menikmati buku ini. Karna pada dasarnya aku menyukai tema pengguna kekuatan super. Walaupun kali ini pemilik kekutan tersebut adalah para penjahatnya. Plot twistnya ya ampun... dahsyat banget. Dari awal aku sama sekali gak menduga kalau kejadian macam itu bisa terjadi. Syut... tapi ajib bangeet. Pokoknya bikin aku suka banget-banget lah ama seri ini XD.


Awalnya Trilogy Reckoners ini bukanlah wishlist utama ku. Karna tetiba aku dapet buntelan dari Noura berupa Firefight, buku kedua dari trilogy ini. Terpaksalah aku majuin buku ini keposisi teratas di list buku yang harus aku baca. Dan setelah melihat ending seperti ini. Aku merasa bersyukur bisa kenalan ama David yang memiliki selera membuat metafora yang aneh dan amburadul. Megan, si cewek misterius yang membuat David berdebar. Cody si penembak jitu yang penuh kejutan, dengan cara yang lucu. Dan para Epik yang kekuatannya bikin geleng-geleng pala. Huaaah... aku puas dengan buku satu ini. Saatnya melanjutkan petualangan David di buku keduanya, Firrfight.

Senin, 15 Agustus 2016

(Review) Percy Jackson's Greek Heroes by Rick Riordan.

- Judul: Percy Jackson's Greek Heroes.
- Penulis: Rick Riordan.
- Ilustrasi: John Rocco.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Editor: Yuke Ratna.
- Penerbit: Nourabooks (Mizan Fantasi).
- Tebal: 496 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-051-8

REVIEW:

Pada dasarnya semua Demigod/Pahlawan itu punya hidup yang sial. Jarang banget ada Pahlawan yang punya ending bahagia. Apalagi kalau kalian merupakan anak dari Dewa-Dewi besar macam Zeus, Poseidon dll... jangan pernah mengharapkan kehidupan yang normal deh. Yang jaman dulu maupun yg jaman sekarang. Semua sama. Coba aja kita liat nasib teman kita Percy Jackson yang kesialannya terus bertambah panjang saja seiring bertambahnya sekuel PJO :v *puk2 Percy*.

Btw, kita untuk sekali ini gak akan membahas tentang Percy. Karna kini giliran Percy lah yang menceritakan kesialan, eh... Petualangan pahlawan-pahlawan jaman dulu di buku berjudul Percy Jackson's Greek Heroes ini.

Terdapat dua belas kisah pahlawan yang laki-laki maupun perempuan, seorang Demigod sampai dengan manusia biasa. Pokoknya dijamin bakal menghibur kalian. Sekaligus kalian bisa mempelajari sejarah para pahlawan ini. Siapa saja kah kedua belas pahlawan ini. Pertama-tama kita akan berkenalan dengan Perseus, eh... bukan Percy Jackson lho ya! Perseus yang ini adalah anak dari Zeus. Yang konon salah satu dari sedikit pahlawan yang memiliki akhir bahagia. Trus kedua ada Psyche, si cantik yang membuat Aphrodite iri. Di nomer urut tiga ada Phaethon, anak dari Titan Helios. Keempat ada Otrera sang pendiri Amazon. Dan kelima Daedalus sang Penemu macam-macam. Iya... Daedalus yang itu... yang membuat Labirin di PJO 4. Trus di nomer enam ada Theseus, sang penakhluk Minotaurus. Ketujuh Atalanta, cewek seram yang dibesarkan oleh beruang. Kedelapan Bellerophon yang ceroboh. Kesembilan Kyrene si pengembala domba. Kesepuluh Orpheus si musisi terkenal di dunia atas maupun Underworld. Dan yang kesebelas Hercules yang terkenal berkat 12 tugas bodoh dari sang Raja. Dan di posisi terakhir, alias pamungkas, ada Jason dan kapalnya Argo yang terkenal.

Kalo aku di tanya petualangan siapa yang paling aku sukai? Hmm... aku juga bingung netapinnya. Kisah mereka mempunyai keseruan yang berbeda. Yang jelas di buku ini penuh dengan nama-nama yang bisa bikin lidah keseleo saking susahnya di sebut. Hehehe...

Nah... apalagi yang harus aku bahas? Hmm... udah cukup kali ya. Aku udah sering promosiin bukunya Om rick, jadi kalian pasti udah tau gimana. Pokoknya buku ini bagus buat belajar sejarah pahlawan yunani jaman dulu. Sampai jumpa di review buku selanjutnya. Dah...

Ps: makasih buat Nourabooks karna udah ngasih aku buku ini secara cuma-cuma. Tau aja deh Noura kalo aku ini kutubuku bokek 😂.

Minggu, 27 Maret 2016

(Review) The Fire Sermon by Francesca Haig.

- Judul: The Fire Sermon. 

-Seri: The Fire Sermon.

- Buku ke: 1 (satu).

- Pengarang: Francesca Haig.

- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).

- Penerjemah: Lulu Fitri Rahman.

- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).

- Tebal: 550 Halaman.

- ISBN: 978-602-385-000-6.


-REVIEW:


Hmm... rada bingung juga mau mulai dari mana dulu. Oke... aku mulai dari kesan-kesan ku dulu aja kali ya setelah baca novel ini. Pertama alurnya menurutku lumayan lambat. Dari bagian awal buku, rada susah buat masuk ke dalam dunia Alpha dan Omega ini, tapi begitu bisa masuk ke cerita dan memahaminya, ternyata lumayan enak juga buat di baca. Idenya bagus, kembaran yang dari lahir sudah tercipta berbeda. Yang satu sempurna dan yang satu nggak. Tapi selain itu, menurutku ceritanya  sudah rada umum untuk ukuran Dystopia. Waktu membaca ini aku selalu kepikiran sama novel dystopia lain, yang di mana orang-orang di adu untuk saling membunuh.  tapi untuk kasus seperti itu menurutku lebih jelas siapa yang harus dibenci. Sedangkan di sini, aku bingung antara pengen getok penjahatnya atau di tereakin di telinga buat akur aja sama Omega. 

The Fire Sermon ini menceritakan tentang seorang cewek Omega bernama Cass. Cass mempunyai kembaran Alpha cowok bernama Zach, jadi begini,setiap kelahiran manusia di zaman ini sudah pasti akan kembar, dan sudah pasti yang lahir akan sepasang, cowok dan cewek. pemisahan antara anggota keluarga yang memiliki fisik sempurna (Alpha) dan yang memiliki kekurangan Fisik (Omega) wajib dilakukan, bahkan semenjak mereka masih bayi. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan para Omega yang dibuang oleh orangtuanya sendiri, demi menuruti peraturan pemerintah. Dari sini saja aku sudah kesel sama pemerintahnya. 

Cass dan Zach ini sama-sama memiliki anggota badan yang sempurna. Jadi ketika mereka lahir, Orangtua mereka tidak bisa membedakan mereka. yang mana kah yang Alpha, dan yang mana yang Omega. Cass kecil yang mengetahui bahwa dirinya berbeda, berusaha keras untuk menyembunyikan keanehannya itu. Demi tetap bisa hidup bersama-sama keluarga yang dicintainya. Tapi sayang, perkara mereka yang tak juga kunjung bisa dipisahkan membuat Orangtua mereka resah. Zach pun ikut gusar karena tak kunjung juga dipisahkan dari kembaran Omega nya, Agar dirinya bisa menjalani hidup normal sebagai seorang Alpha. Cass kecil berhasil menyembunyikan jati dirinya selama tiga belas tahun, walaupun berulang kali dicurigai oleh kembarannya. Dia tak juga kunjung mengakuinya, bahwa dia adalah seorang Omega. Sampai suatu kejadian mengungkap identitas aslinya, dan memyebabkan Cass terusir dari pemukiman Alpha.

Selama enam tahun. Cass telah menjalani kehidupannya dengan normal. Senormal yang bisa seorang Omega dapatkan lah. Tiba-tiba ketenangan hidupnya terusik kembali, Ibunya yang tidak pernah mengunjunginya, datang ke pemukiman Omega, dengan membawa sebuah kabar. bahwa Zach, kembarannya, telah berhasil meniti karirnya di pemerintahan. Dan bukan hanya itu, ibunya juga memberitahu bahwa Zach akan membuat hidup Cass sengsara. Cass telah hidup serba kekurangan selama enam tahun, dan tidak begitu di sukai bahkan oleh kaumnya sendiri. Sesengsara apakah Zach akan membuat kehidupan Cass nanti. Kalau penasaran, ya baca aja bukunya, huahahaha... *lalu di dorong ke Tartarus. 

Secara kesuluruhan, bukunya menghibur kok. Kalo tahan dengan alur yang lambat, ya coba baca aja. Cass di gambarkan mempunyai pemikiran dewasa. Mungkin karna sebagian besar buku ini di ceritakan dari sisi Cass yang telah berusia Dua puluh tiga tahun kali ya. Gak kayak sebagian novel lain yang masang karakter utama cewek remaja yang menye-menye dan minta di tabok :v. Aku suka cara berpikir Cass. Gak kayak kembarannya yang pengen ku tabok mulu *eh!. 

Buku ini kudapatkan secara tiba-tiba dari Noura Books. Gak ada angin, gak ada hujan. Aku di tawarin mau gak dapet novel fantasi. Ya namanya aku suka Fantasi, ya aku iyain aja dengan senang hati. Makasih ya penerbit buku kesayanganku. Sering-sering aja gini. Aku seneng kok *tifa di toyor.


Sabtu, 12 September 2015

(Review) Spirit Animals: Wild Born #1 by Brandon Mull.

- Judul: Wild Born.
- Seri: Spirit Animals.
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Pengarang: Brandon Mull.
- Bahasa: English (Non Terjemahan).
- Penerbit: Scholastic Inc.
- Tebal: 208 Halaman
- ISBN: 978-0-545-52243-4

- Review:

Sudah dari awal-awal ngefans sama Om Brandon aku emang berniat buat bacain semua seri yg dia tulis. Pas ketemu seri satu ini aku ngira bahwa ini series yg ditulis sama om Brandon sendiri. Ternyata seri ini ditulis oleh banyak penulis. Dan termasuk penulis favoritku yg lain, Marie Lu, yg nanti akan menulis di buku ke tujuh. Sudah lama buku ini numpuk di wishlist ku. Karena gak ada terjemahannya, maka otomatis kalo aku mau baca harus nyari yg versi english, dan itu harganya mahal banget buatku. Untung saja aku bertemu dengan Better World Book, sebuah toko buku online yg menjual buku second plus gratis ongkir ini. Dimulai lah kekalapan, eh... pencarianku kepada buku-buku versi english yg masuk ke dalam wishlist ku. Dan semakin lama aku menatap tuh toko. Semakin susah buat nahan gak beli di sana. Eh... kok aku keluar jalur sih. Kan kita lagi bahas Wild Born *fokus tif, fokus*

Karena aku masih baru dalam membaca buku berbahasa asing ini, maka jadilah aku baru bisa nyelesein buku ini dalam waktu seminggu lebih, padahal bukunya tipis banget. Cuman 200 halaman kalo gak salah. Tapi berkat keahlian Om Brandon, aku berhasil menamatkan buku ini.

Buku ini menceritakan tentang empat orang anak berusia sebelas tahun yg memiliki latar belakang yg berbeda. Conor, cowok berambut pirang ini adalah anak seorang pengembala domba. Sedangkan Ebeke, Cewek berkulit hitam ini adalah cewek yg senang berburu ketimbang melakukan hal ke Cewek an lainnya, seperti merajut dan sebagainya. Ada pula Meilin, Cewek cantik nan kaya, yg nampak seperti seorang putri yg anggun dihadapan semua orang. Tetapi di dalam, dia sangat ahli dalam hal bertempur dan mengatur strategi. Ini semua berkat sang ayah yg merupakan jenderal terhebat di Zhong. Lalu yg terakhir ada Rollan, cowok yatim piatu yg tinggal di jalanan.

Sebelum mereka melakukan ritual pemanggilan Spirit Animals. Mereka adalah anak biasa, well... mungkin buat Conor, Ebeke dan Rollan saja. Karena Meilin, walaupun dia tak berhasil memanggil Spirit Animals. Dia tetap akan bisa mempelajari strategi perang, dan siapa tahu suatu hari dia akan jadi Jenderal hebat seperti ayahnya. Dan ketika mereka berempat melakukan ritual itu di tempat berlainan. Satu persatu dari mereka memanggil Spirit Animals yg mereka kira hanya ada dalam legenda. Conor berhasil memanggil seekor Serigala bermata Biru bernama Briggan. Lalu Ebeke berhasil memanggil seekor Chittah bermata ungu bernama Uraza. Meilin berhasil memanggil seekor Panda bermata Silver bernama Jhi. Dan terakhir Rollan yg memanggil seekor Elang bernama Essix. Briggan, Uraza, Jhi dan Essix di kenal sebagai The Four Fallen. Mereka lah Spirit Animals yg di anggap paling hebat diantara yg lain.

Begitu mereka berhasil memanggil The Four Fallen, para Greencloak (perkumpulan para pemanggil Spirit Animals yg mengadakan ritual pemanggilan Spirit Animals di seluruh negri) langsung berusaha mengumpulkan mereka berempat bersama. Di lain pihak, musuh para Greencloak *aku lupa namanya :v* juga berusaha merekrut mereka berempat sebagai anggota mereka. Salah satu dari mereka berempat jatuh ke pihak musuh, karena dia awalnya tak mengira bahwa orang-orang yg merekrutnya adalah musuh para Greencloak.

Buku ini memakai sudut pandang orang ketiga, dan memakai PoV empat anak ini. Karena tiga orang diantara mereka berhasil di amankan oleh para Greencloak, dan yg satu berada di pihak musuh. Jadi kita bisa tahu apa yg sedang dilakukan oleh masing-masing pihak. Buku ini sangat bagus, yah... walaupun mereka belum begitu akrab, tapi aku bisa paham, mereka kan baru sebentar bertemu, ya gak mungkin kan sudah saling nempel aja. Semoga di buku kedua yg berjudul Hunted, hubungan mereka makin bagus dan makin solid kerjasama nya, baik terhadap satu sama lain, maupun terhadap binatang-binatang mereka.

Aku pernah menanyakan masalah buku ini pada salah satu editor di penerbit yg juga telah menerbitkan karya lain Brandon Mull dan Marie Lu. Tapi gagal, kata beliau, karena seri ini terlalu panjang, jadi sangat beresiko bakalan putus ditengah jalan, maka dari awal beliau udah nolak buat nerjemahin seri satu ini. Rada kecewa sih. Tapi ya mau gimana lagi. Semoga aja ada penerbit lain yg bersedia nerjemahin ini sampai tamat.

Kamis, 25 Juni 2015

(Review) The Crown of Ptolemy by Rick Riordan.

- Judul: The Crown of Ptolemy.
- Seri: Crossover Percy Jackson & Kane Chronicles.
- Seri ke: 3 (Tiga).
- Pengarang: Rick Riordan.
- Bahasa: English (Ebook ver).
- Rating: 5 of 5 star.

- Review:

Tes tes..  baru kali ini aku nyobain nge-blog via hp. Jadi maklumi aja kalo gaya post ku agak beda dari biasanya, hehehe....

Setelah dua bulan aku gak berhasil menyelesaikan buku apapun. Baru hari ini aku berhasil namatin sesuatu. Itu pun cuman sebuah cerpen. Huhuhu...
Tapi jangan salah... walaupun cerpen, tapi ini adalah cerpen yang dikarang oleh penulis favoritku, Rick Riordan. Crown of Ptolemy ini merupakan cerita ketiga dari trilogy Cross over Percy Jackson & Kane Chronicles. Yep... ini menceritakan tentang bagaiman jadinya bila  para Demigod Yunani bertemu dengan para Penyihir Mesir. Secara mereka semua hidup di satu negara, yaitu Amerika. Jadi sangat mungkin kalau para Demigod dan Penyihir akan bertemu. Dan yang bertemu di trilogy ini bukan sembarang Demigod dan Penyihir, tetapi para tokoh utama di serial masing-masing. Siapa lagi kalo bukan duo maut Percy-Annabeth dan kakak beradik Kane, Carter-Sadie. Di The Son of Sobek. Carter bercerita bahwa dia bertemu dengan cowok aneh berpakaian orange dan memegang sebuah pedang ketika dia berusaha untuk mengatasi makhluk yang meresahkan masyarakat di Long Island. Dan tentu saja si cowok aneh itu adalah Percy Jackson. Dan di cerita kedua, The Staff of Serapis, giliran Annabeth lah yang bertemu dengan penyihir Mesir yang nyentrik, Sadie Kane di sebuah kereta, padahal Annabeth tadinya bermaksud untuk bertemu dengan Percy, pacarnya. Tapi, lagi-lagi karena seekor monster, rencana itu harus dibatalkan. Berkat pertemuan singkat empat tokoh ini, mereka pun menyimpulkan bahwa ada seseorang yang berusaha menggabung dua mitologi ini menjadi satu. Dan pertanyaan mereka pun terjawab di cerita ketiga ini, di The Crown of Ptolemy. Bersama mereka harus menghadapi seorang musuh yang terobsesi ingin menjadikan dirinya sendiri menjadi seorang Dewa Mesir-Yunani.

Rick Riordan selalu berhasil memukau ku, di Staff of Serapis aku berhasil dibuat sesak nafas hanya dengan melihat memakai sudut pandang Annabeth. Betapa shock nya dia, karena bukan hanya mitologi Yunani dan Romawi saja yang ternyata tetap eksis sampai saat ini, tapi ternyata Mesir pun juga masih eksis. Di cerita kali ini pun sama, selain karena di sini memakai PoV (Point of View) dari Percy Jackson yang selalu merupakan sudut pandang favoritku selama ini. Ceritanya juga tak kalah menakjubkan dari cerita sebelum-sebelumnya.

Bagaimana cara mereka ber empat menggabungkan kekuatan mereka sangat keren menurutku, karena lawan mereka berusaha menggabungkan dua mitologi. Jadi mereka berempat pun mencoba untuk menggabungkan cara Yunani dan Mesir jadi satu. Jadi misteri yang terdapat di cover Crown of Ptolemy pun akhirnya terungkap setelah membaca ini. Awalnya aku bingung, kenapa pedang Percy kok jadi lucu gitu, bengkok dan sangat jelas bentuknya lebih lebar dari pedang Percy yang biasa. Dan ternyata... *kalo mau tau jawabannya, baca aja ndiri*. Hah... pokoknya gak ada habisnya deh kalo aku mau ngebahas tentang trilogy ini. Kalau kalian penasaran sama trilogy ini, kalian bisa menemukan terjemahan dari Son of Sobek di bagian belakang novel Serpents Shadow (buku ketiga dari seri Kane Chronicles). Dan Staff of Serapis di buku Demigod Files. Sedangkan untuk Crown of Ptolemy, sejauh ini aku belum mendapatkan info kapan cerita ini akan diterjemahkan. Jadi untuk yang gak sabar pengen nyaksiin petualangan Percy yang terakhir, baca aja via ebook.

Kamis, 26 Maret 2015

(Review) The Revenge Of Seven, Lorien Legacies #5 by Pittacus Lore.







- Judul: The Revenge Of Seven.
- Seri: Lorien Legacies.
- Seri ke: 5 (Lima).
- Pengarang: Pittacus Lore.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Nur Aini.
- Penerbit: Mizan Fantasi.
- Tebal: 452 Halaman.
- ISBN: 9789794338612.




- Review:

                            ------SPOILER ALERT-------
BUAT YANG BELUM BACA BUKU-BUKU SEBELUMNYA.







Setelah dibuat galau berat sama ending buku sebelumnya, Fall of Five. Sekarang mereka kembali beraksi dibuku ke-lima dari seri Lorien Legacies. Six, Marina a.k.a Seven dan Nine yg terlantar di rawa-rawa karna pertarungan tak terduga mereka dengan sang pengkhianat. Dan John alias Four, Sarah, Sam, dan Malcolm, ayah Sam. Sekarang bersatu dengan salah seorang Mogadorian baik hati bernama Adam. Mereka kini harus bersembunyi, karna markas rahasia mereka kini hancur sudah. Mereka terpencar dibelahan bumi yang berbeda. Dan ingin bersatu kembali demi mengalahkan sang pemimpin tercinta para Mogadorian, Setrakus Ra. Yang sekarang telah berhasil menculik Ella, karna suatu tujuan.
Dibuku kali ini, sudut pandang kembali dibawa oleh Number Four dan Six, Garde favorit kita (jiah… kita. Emang lu sama siapa Fa?) dan ada juga sudut pandang Ella yang sekarang melaporkan langsung keadaan didalam kapal ruang angkasa milik Setrakus Ra. Banyak hal terungkap dibuku ini, yang bikin aku memaafkan sang pengkhianat. Dan bikin aku berhenti galau soal Ella yang dibuku sebelumnya kondisinya bikin prihatin.
Dari awal sampai akhir, buku ini menyajikan aksi yang tampaknya tiada habisnya. Dan aku harus akui, si Pittacus Lore berhasil memacu adrenalinku hanya dengan membaca buku ini saja. Setiap karakter dibuku ini tak henti-hentinya bikin aku jatuh cinta. Terutama sama si kecil Ella. Endingnya berhasil bikin aku kepengen nangis, merinding karna harapan (eh? Gimana maksudnya coba?). dan berhasil bikin aku yakin pake banget banget, bahwa buku ini super keren. Banyak yang merasa digantungin sama buku ini. tapi itu tak berpengaruh apa-apa sama aku, karna aku udah terbiasa digantungin sama series. Baik itu novel, maupun serial tv yang sekarang sedang kugilain banget. Makasih lho ya… buat yang bikin aku penasaran mulu :v.
Selama aku baca buku ini, tanpa sengaja aku selalu mengharapkan pengkhianatan dari Adam, seolah aku tak percaya bahwa Adam benar-benar baik, dan beda dari bangsanya yang lain. Soalnya aku benci perasaan di khianati seperti yang terjadi dibuku sebelumnya. Untunglah Adam berhasil ngebuktiin. Bahwa dirinya benar-benar berada dipihak Bumi.
Buku ke-enam nya nanti akan berjudul Fate of Ten. Dan konon seri ini akan berakhir dibuku ke-tujuh. Dan salah satu misteri novel ini pun kembali terungkap. Karna dari awal, tidak ada yang tahu seri satu ini akan berakhir dibuku keberapa.

Rabu, 07 Januari 2015

(Review) Bonus Track by Koshigaya Osamu.








- Judul: Bonus Track.
- Pengarang: Koshigaya Osamu.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan)
- Penerjemah: Andry Setiawan.
- Penerbit: Penerbit Haru.
- Tebal: 380 Halaman.
- ISBN: 978-602-7742-36-9.


- Review:

Halo... ini merupakan Review ku pertama di tahun ini, dan buku pertama juga yang aku mulai baca di tahun 2015. wuih... serba pertama nih. dan baru pertama kali juga aku terpilih jadi salah satu Reviewer yang di percaya oleh Haru. aku seneng banget, karna aku udah pernah nyoba-nyoba daftar kayak gini  dibeberapa penerbit lain, tapi gak pernah berhasil. untung lah kali ini aku lolos dan di berikan kesempatan untuk me-review buku ini.

Kusano tak menyangka bahwa perjalanan pulang nya dari tempat kerja, yang biasanya berlangsung dengan tertib dan damai malah berakhir dengan memberikan nafas buatan untuk seorang korban tabrak lari. si korban tabrak lari, Ryota, yang ternyata telah menjadi hantu itu merasa ngeri ketika dia melihat seorang laki-laki memberikan nafas buatan kepada jasad nya. dia tak menyangka bahwa dia akan melihat dirinya di cium oleh laki-laki. ugh... baginya itu adalah pengalaman yang mengerikan. tapi walau bagaimana pun Ryota tahu, bahwa si pria asing itu hanya sedang berusaha keras menyelamatkan nyawa nya. tapi walau diberi nafas buatan sering sekali. tetap saja tubuh Ryota tak menunjukkan tanda-tanda untuk bergerak. sudah terlambat. nyawa Ryota tak tertolong lagi. dan dimulai dari malam itu. Ryota pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti Kusano. kemana pun Kusano pergi. bukan hanya karna Kusano adalah orang pertama yang menemukan Ryota. tapi juga karna Ryota juga ternyata bisa mendengar suara arwah Ryota.

aku suka banget PoV Ryota, si hantu yang kocak. sebagai hantu, dia sudah berhasil bikin kehidupan Kusano yang terkesan monotone (yah.. maklum aja sih, namanya juga udah kerja) menjadi lebih berwarna. awalnya aku sempet bingung, ini kok cowok semua ya? mana cewek nya. Hampir sepanjang jalan cerita aku berfikiran seperti itu, sampai aku berada di tengah cerita. dan dari sanalah keseruan mereka di mulai. ternyata petualangan para laki-laki keren juga ya XD. dan jadi gak mainstream, karna kebanyakan cerita kayak gini kan pasti pasangan cowok-cewek. dan dengan berani nya si penulis merubah kebiasaan itu. dan berhasil mengeksekusi nya dengan baik. salut...

Secara keseluruhan. Novel ini bisa termasuk kedalam novel yang seru banget. tapi ada beberapa scene yang menurutku seharus nya tak perlu diulang-ulang. tapi untung saja cara bercerita yang seperti itu tak berlangsung lama. kalo menurutku novel satu ini layak untuk di coba. pokoknya gak rugi deh kalo kalian ngeberi novel ini kesempatan untuk dibaca. nah sekian dulu review ku, yang jujur rada aneh ini.




Rabu, 17 Desember 2014

(Review) Heroes of Olympus #5: Blood Of Olympus by Rick Riordan.






- Judul: The Blood Of Olympus.
- Seri: Heroes Of Olympus.
- Seri Ke: 5 (lima).
- Pengarang: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Penerbit: Noura Books (Mizan F).
- Tebal: 544 halaman.
- ISBN: 978-602-130-671-0
- Rating:  5 of 5 Star.

- Sinopsis: Goodreads 


- Review:

***(Spoiler Alert)***
(for House of Hades and the other).
 

Huft... akhirnya berakhir juga series yang telah menemani perjalanan hidupku selama 4 tahun ini *tsaah... *lebay. walaupun, jujur ending nya rada kurang memuaskan *kurang panjang maksud nya :v* tapi aku gak ngerasain galau ketika berpisah sama HOO (Heroes of Olympus). malah aku ngerasa agak lega, entah kenapa rasanya berbeda sama ketika aku mengakhiri Series PJO dulu. mungkin juga karna aku berharap bahwa Om Rick bakalan ngebuat series baru yang kembali berhubungan dengan Demigod Yunani. makanya aku gak galau XD.

hah... kita singkirkan dulu angan-angan *khayalan* ku tentang seri baru itu dan kita mulai membahas tentang buku ini saja. Hmm... seperti para pendahulunya, Rick Riordan memang membuat series ini dengan beberapa sudut pandang sekaligus. Kalau sebelumnya, di House Of Hades, mempunyai 7 sudut pandang. kali ini, Rick Riordan hanya membuat lima sudut pandang saja. Jason, Piper, Leo, Reyna dan Nico. yang mana berhasil bikin aku uring-uringan waktu pertama membaca, karna kali ini, sudut pandang Percy ditiadakan T_T. dan baru belakangan aku tahu, kenapa sudut pandang Percy dan Annabeth ditiadakan. tapi sebagai gantinya, aku bertemu dengan sudut pandang baru, Reyna dan Nico, yang mana keduanya sangat-sangat keren XD. aku suka dengan sudut pandang Reyna disini, berasa ngeliat Annabeth versi lebih garang, hehehe...

Oke, begini ceritanya, Setelah berhasil lolos dari Gerha Hades dengan selamat, sekarang para kru kapal Argo-II harus kebut-kebutan menuju Yunani, demi menggagalkan bangun nya sang Ibu Bumi, Gaia. dan dilain pihak, Reyna, Nico dan Pak Hedge berusaha mati-matian untuk membawa patung setinggi dua belas meter ke Camp Half-Blood. agar tak terjadi peperangan antara Demigod Yunani dan Romawi. jadi walaupun kedua tim yang menuju dua tempat yang berbeda, mereka sama-sama punya kesamaan, yaitu harus berhasil mencapai tempat tujuan mereka sebelum tanggal 1 Agustus.

menurut sudut pandang ku yang sotoy ini, Gaia nampak nya sangat terburu-buru sekali dalam menyiapkan kebangkitannya. bagaimana tidak baru saja Percy dkk mengalahkan Kronos di bulan agustus tahun itu, dan tiba-tiba Gaia memutuskan untuk bangun setahun setelah kematian anaknya yang tercinta. padahal Kronos saja perlu empat tahunan agar bisa bangkit, dan dengan sabarnya menunggu hingga Percy berusia 16 tahun. dan Gaia hanya butuh 1 tahun buat bangkit, oh my... beneran deh, dari awal aku selalu nganggep kalo Series ini terkesan terburu-buru banget. tapi apa daya, kecintaan ku terhadap Percy telah membutakan ku, biarlah Percy menderita lagi, asalkan aku bisa melihat dia bersama Annabeth lagi XD *lalu ditenggelemin sama Percy ke laut*

buat yang mengharapkan Happy Ending, selamat... anda mendapatkan nya, dan oh iya, Om Rick juga memberikan satu hadiah lagi pada kalian.... apa itu? yaitu............... CLIFFHANGER. TADAAA.....
penasaran sama apa yang aku maksud sebagai sesuatu yang menggantung itu? ya baca dong bukunya, males banget aku kalo mesti nerangin seluruh isi buku disini. dan lagi aku sekarang udah berubah jadi orang yang anti Sop Iler, karena selain bau *eh?* Sopiler juga tidak bagus untuk kesehatan anda, hehehe... sekian dan terima kasih, sampai jumpa di postingan lainnya, bye-bye...

oh iya, jangan lupa, mulai tahun depan, Om Rick akan mengeluarkan satu seri baru berjudul Magnus Chase, yep... Chase. seperti Annabeth. sebenarnya ada hubungan apakah Magnus dengan Annabeth, well... jawaban kalian akan terjawab tahun depan.

Kamis, 09 Oktober 2014

(Review) Five Ancestors: Tiger #1 by Jeff Stone.




- Judul: Tiger.
- Seri: Five Ancestors.
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Pengarang: Jeff Stone.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Sujatrini Liza.
- Penerbit: Noura Books.
- Tebal: 270 Halaman.
- ISBN: 978-602-949-828-8.


- Sinopsis: 

"Pemandangan yang terhampar di depan Fu lebih buruk daripada yang dia bayangkan. Api menyambar dari setiap bangunan. Di bawah cahaya bulan, dia bisa melihat jubah jingga di mana-mana. Ratusan serdadu berbaju zirah pun tergeletak. Fu tercekik asap dan bau busuk tubuh-tubuh terbakar yang disulut oleh panah berapi. "

Fu, sang biksu pendekar gaya macan, tidak rela Kuil Changzen diserang tanpa perlawanan. Baginya, Kuil Changzen adalah rumah, Mahaguru adalah orang yang paling dia hormati, dan penghuni kuil adalah saudara-saudaranya. Saat dipaksa pergi bersama empat saudaranya sesama yatim piatu ---Malao, Seh, Hok, dan Long---, Fu tahu dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak tinggal diam! Walaupun risikonya dia harus menguak rahasia kelam Mahaguru. Rahasia tentang masa lalu dan orangtua kelima biksu muda yang hebat itu! Pertama-tama Fu harus kembali ke kuil untuk melihat keadaan --- karena tak mungkin seorang pemberani pergi begitu saja dari pertempuran.


- Review

Setelah 2 bulan lebih gak nge-review, akhir nya aku bikin juga. holaa... dunia... sudah kenal kah kalian pada buku satu ini? buku kecil yang ringan ini berhasil kudapatkan berkat seorang teman yang mau  aku titipin, karna kalo beli sendiri, entah kenapa rasanya males banget :v *bilang aja mau nyusahin orang* dan begitu denger buku ini udah terjun bebas *ahem* ke obralan, maka aku pun memutuskan buat nitip minta beliin. ternyata eh ternyata, begitu buku ini sampai ketangan ku, dulunya aku mengira kalo buku ini tuh buku fantasi, karna covernya yang bergambarkan wajah cowo yang setengah manusia setengah macan. setelah di perhatikan secara seksama, eh kok gak ada label fantasinya. tapi karna udah terlanjur beli, ya udah aku paksain buat baca *ini bukan karna buku nya gak bagus atau apa, tapi karna aku nya yang emang males nya kebangetan buat baca*. dan kesan ku setelah baca buku pertama nya adalah...

Dari awal cerita, kita sudah disuguhi oleh aksi yang meledak-ledak (secara harfiah). karena mereka, para biksu, benar-benar diserang oleh musuh yang muncul secara mendadak di kuil rahasia mereka, Changzen.karna serangan mendadak, lima orang biksu muda penguasa jurus hewan terpaksa harus bersembunyi karena suruhan oleh Mahaguru mereka, padahal Fu, si Macan, ingin sekali melawan musuh yang menyerang kuil mereka, apalagi dia yakin bahwa salah satu diantara pasukan itu terdapat salah satu mantan biksu yang menguasai jurus binatang juga.

mereka terpaksa harus berpencar ke empat arah mata angin demi mengungkap misteri tentang masa lalu mereka, demi bisa mengalahkan mantan sahabat mereka yang sekarang ingin memusnahkan seluruh biksu di Changzen. tapi tanpa harus membunuh nya, bagaimana mereka bisa mengalahkan bekas kakak seperguruan mereka yang sangat kuat itu.

di buku ini, karena judul nya adalah Tiger, maka si Fu lah yang menjadi tokoh utama di buku ini. aku cukup menikmati sudut pandang Fu yang tak kenal takut dan berani, walau rada ceroboh. dari awal buku ini sudah menyajikan aksi yang keren, dan ada bagian yang membuat terharu juga, cukup banyak sifat Fu yang patut di contoh di buku ini, seperti meminta maaf setulus hati, sekalipun dia merasa bukan dia yang salah. padahal kalau untuk anak seumuran Fu, yang namanya minta maaf dengan tulus itu sangat-sangat susah. 

seri ini unik karna disetiap buku, karakter utamanya beda-beda, sesuai judul nya, bila di buku satu ini tokoh utamanya adalah si macan kecil, Fu. maka dibuku duanya nanti yang berjudul Monkey, maka si Monyet pecicilan, Malao lah yang akan menjadi tokoh utamanya. seperti apa kisahnya... kalau penasaran baca saja seri ini, karna terjemahan seri ini sudah tersedia hingga buku ke-tiganya yang berjudul Snake.