Sabtu, 29 Juli 2017

(Review) Glass Sword by Victoria Aveyard

- Judul: Glass Sword.
- Seri: Red Queen.
- Seri ke: 2 (Dua).
- Pengarang: Victoria Aveyard.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Penyunting: Jia Effendie.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Tebal: 601 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-168-3

- Review:

(( Peringatan... review mengandung spoiler buku sebelumnya))

Setelah berbulan-bulan aku tunda. Akhirnya ku tamatkan juga buku ini dengan perasaan lega. Sungguh buku yang menarik.

Mare Barrow hanya lah seorang darah merah biasa beberapa bulan yang lalu. Semenjak dia bekerja untuk kerajaan perak. Mare menyadari satu hal yang berbeda pada dirinya. Yaitu memiliki kekuatan super layaknya seorang perak. Mungkin kah itu terjadi?

Setelah belajar pada seorang perak yang baik padanya, Mare pun menyadari satu hal. Bahwa dia bukan lah satu-satunya orang yang memiliki kelainan ini. Dia tidaklah sendirian. Masih banyak pemilik darah baru lain di luar sana yang juga memiliki kekuatan sepertinya. Berdarah merah, dan lebih kuat dari perak. Menjadi darah baru bukanlah hal yang mudah. Mare pun dibuat ke susahan oleh status barunya itu, merah sekaligus perak. Dia pun melarikan diri dari kerjaan yang ingin membunuhnya.

Sebelumnya di buku Red Queen, kita diajak untuk  mempelajari tata cara bagaimana seorang bangsawan perak seharusnya bersikap. Sedangkan di buku keduanya ini kita diajak jalan-jalan keliling negeri untuk menemukan para darah baru, suka duka mengiringi perjalanan Mare bersama para pejuang merah.

Pengumpulan darah baru sangat mengasyikkan, banyak orang dengan kekuatan baru, dan berbeda dari para perak. Kekuatan unik mereka mampu membuat laju bacaku meningkat. Ya walaupun tetep aja sih pada akhirnya aku baca ini lama banget baru kelar. Hehehehe...

Sebagai pecinta kekuatan super, aku sangat menikmati membaca Glass Sword, walaupun ada sebagian besar yang bikin aku empet karena karakternya terlalu membingungkan. Tapi aku mencoba bersabar, dan hanya fokus ke alur cerita. Buku yang menarik, sungguh...

Minggu, 07 Mei 2017

(Review) House of Secrets #2 dan #3 - Battle of Beasts dan Clash of the World by Chris Columbus & Ned Vizzini.





- Judul: Battle of the Beasts #2.
              Clash of the World #3.
- Seri: House of Secrets.
- Seri ke: 2 dan 3 (Dua dan Tiga).
- Penulis: Chris Columbus & Ned Vizzini.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Penerjemah: Putro Nugroho (Buku 2)

                     Lulu Fitri Rahman (Buku 3)
- Penyunting: Lisa 
Indriana Yusuf (Buku 2) 

            Yuke P. & Yuli Pritania (Buku 3)
- Tebal: 446 Halaman (Buku 2)

              Halaman (Buku 3)
- ISBN: 978-602-0989-75-4 (Buku 2)

- Rating: 4 of 5 stars (Buku 2) 

                3.5 of 5 stars (Buku 3)



Review:


Cordelia, Brendan dan Eleanor Walker adalah tiga bersaudara yang tidak lah bisa di bilang akur. Tapi memang siapa sih yang pernah akur seratus persen dengan saudaranya. Tetapi berkat petualangan mereka di buku sebelumnya, hubungan mereka kini lebih dekat daripada sebelumnya.

Petualangan di lautan itu tak hanya memberikan efek pada hubungan kakak-beradik Walker saja. Tapi kepada status sosial keluarga Walker juga. Kenapa? Berkat uang dadakan yang Eleanor pinta. Kini mereka berubah menjadi jutawan. Dan hidup baru sebagai orang kaya raya pun di mulai.

Singkat kata, mereka memang menikmati kekayaan mereka itu dengan sebaik-baiknya. Tetapi kenapa mereka tak juga merasakan puas dan bahagia? Padahal seharusnya dengan semua uang itu. Mereka bisa hidup dengan aman dan nyaman. Tetapi tidak, sepertinya takdir tak bisa membiarkan mereka hidup dengan tenang. Bermula dengan tingkah laku Ayahnya yang agak aneh. Tas baru Brendan dan kulit keriput Cordelia. Semua kesialan kembali menimpa kakak beradik Walker ini.

Konsep bercerita di buku kedua ini entah kenapa tidak semulus buku pertamanya. Ada kekurangan di sana sini. Seperti perpindahan PoV (Point of View). Dan alur yang lebih lambat. Aku baru menemukan kliknya ketika buku telah aku lahap setengahnya. Tapi aku sangat suka dengan konsep biksunya yang sangat berlawanan dari yang biasa kita temui. Kalau biasanya para biksu itu vegetarian, kali ini, di buku Battle of the Beasts, mereka sangat menyukai daging.

Sedangkan di buku ketiga. Aku merasakan gereget tiada akhir pada ketiga kakak beradik Walker. Jangan tanya aku kenapa. Karena bakal spoiler parah. Buku ketiga langsung mengambil seting tepat setelah buku kedua berakhir. Jadi dari awal sampai akhir, buku Clash of the World ini menyuguhkan aksi tiada akhir.

Jadi bagaimana.. apa kalian tertarik dengan seri ini? Apabila kalian merupakan pecinta novel fantasi middle grade yang menceritakan kisah petualangan ke berbagai buku. Tak ada salahnya kalian menyicipi seri satu ini. Mumpung seri ini sudah diterjemahkan seluruhnya oleh Noura. 

Selamat datang wahai pembaca baru, aku serahkan cerita ini kepada kalian. Dan...

Selamat tinggal keluarga Walker.

*ya ampun.. gaya ku, kayak yg aku aja yg nulis.





Sabtu, 18 Februari 2017

(Review) Trials of Apollo #1 - The Hidden Oracle by Rick Riordan

- Judul: The Hidden Oracle.
- Seri: Trials of Apollo.
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Penulis: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Penyunting: Yuli Pritania.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Tebal: 464 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-230-7.
- Rating: 5/5 Stars.

- Review:

Iyaa... tau. Aku ngereview buku Om Rick lagi. Padahal kalian sudah tau kalo aku bakal muji-muji dia. Tapi... kalian salah kali ini. Setelah aku menyelesaikan buku ini. Aku malah pengen nyekek tuh Om. Tega bener ngorek-ngorek luka lama orang. Aku gak mau bilang apa sebabnya aku pengen nyekek si Om. Karena bakal spoiler parah. Jadi kalau kalian ingin tau apa yang membuat aku kesel. Baca aja sendiri.

Eeeeh... Jangan pergi dulu. Aku nggak bilang kalo buku ini gak bagus lho ya! Aku emang kesel, tapi bukan berarti aku gak suka *halah... tifa ribet*. Aku malah suka banget banget sama buku ini. Kenapa kalian bilang? Oke ini dia alasannya.

Setelah seri Heroes of Olympus berakhir. Kalian pasti berpikir, akhirnya perjalanan Percy Jackson dkk... berakhir juga. Dan akhirnya mereka bisa beristirahat dengan tenang. Wut... kalian salah. Di seri terbaru karya Rick Riordan kali ini, Rick mengambil tema yang berbeda dari biasanya. Kalau biasanya karakter utamanya selalu para Demigod, alias anak-anak para Dewa. Kali ini karakter utamanya adalah seorang Dewa. Dan Dewa itu adalah Apollo. Iyaaa... Dewa Apollo yang itu. Sang Dewa Matahari, Musik, Pengobatan, Panahan dll... itu. Dewa sok keren dan narsis ini, akhirnya tersandung juga. Berkat salah saorang cucunya (kalau kalian sudah membaca Seri Heroes of Olympus, kalian tau siapa yang aku maksud). Apollo mendapatkan kemarahan dari Ayahnya, Dewa Zeus, sang Dewa langit. Dan di kutuk menjadi manusia biasa dan dilemparkan langsung dari Olympus ke tempat sampah.

Sudah cukup apes kah seorang Dewa matahari dijatuhkan dari langit dan mendarat ke tempat sampah? Jawabannya belum. Ketika terjatuh, Apollo menyadari satu hal. Dia tak bisa terbang, tidak juga bisa berubah wujud. Padahal biasanya dirinya dapat dengan mudah berubah bentuk. Dan semuanya langsung menghantam dirinya. Apollo tak lagi menyandang gelar dewanya. Dia terjatuh sebagai manusia fana biasa, bernama Lester Papadopoulos.

Setelah menyadari kondisinya, Apollo terpaksa harus mencari bantuan. Dan cuman ada satu tempat di dekat sini yang menyediakan itu. Camp Half-Blood, alias perkemahan Blasteran.

Setelah seri PJO. Camp Half-Blood sangat jarang ditampilkan lagi. Karna di seri HoO, Ketujuh Demigod mesti jalan-jalan lintas negara demi merampungkan ramalan mereka. Jadi mereka hanya bisa sebentar saja berada di Camp. Dan buat kalian yang merindukan suasana Camp Half-Blood, kalian akan merasakan sensasi pulang kerumah di seri ini. Karena kita bakalan di manjakan dengan pemandangan Camp yang sudah sangat kalian rindukan. Kita bakalan bertemu dengan beberapa pekemah lama, dan para pekemah baru yang aku belum sempat hapalin nama-namanya ini.

Jadi bagaimana? Akankah kalian sanggup menghadapi kegalauan sang Dewa. Segera lah adopsi buku terbaru karya Rick Riordan ini. Dan rasakan sendiri sensasinya.    

Kamis, 09 Februari 2017

(Review) Reckoners Trilogy #3 - Calamity by Brandon Sanderson.

- Judul: Calamity.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 3 (Tiga).
- Pengarang: Brandon Sanderson.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Penyunting: Lisa Indriyana.
- Penerbit: Noura Books.
- Tebal: 574 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-166-9
- Rating: 5/5 stars.

- Review:

Kehidupan setelah Calamity tidak lah seterang cahayanya. Dunia kini porak poranda akibat keberadaan para Epik yang saling memperebutkan kekuasaan. Bahkan setelah satu dekade berlalu sejak Calamity muncul. David yang merupakan seorang anggota Reckoners, sekelompok manusia biasa yang berusaha memerangi Epik. kini harus berjuang dengan gigih melanjutkan misi mustahil mereka, yaitu mencoba untuk menyadarkan para Epik dari efek kegelapan yang merasuki pikiran mereka. David sadar, bahwa dengan membunuh para Epik saja, itu tidak akan cukup untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik. David harus berusaha untuk menyadarkan mereka. Tapi bagaimana caranya? David memang memiliki satu teori yang dapat mengusir kegelapan yang dimiliki oleh para Epik. Tapi teori ini baru pernah dia uji kepada satu Epik saja. Apa David benar-benar bisa percaya dengan teorinya tersebut, dan berani kah dia mempertaruhkan nasib teman-teman sesama Reckonersnya demi teorinya ini.

Misi terbaru para Reckoners ini tidaklah mudah. Apalagi sepeninggal Jonathan Paedrus, sang pendiri Reckoners. David pun memeberanikan diri mengambil alih komando untuk memimpin Reckoners. Dan bersama teamnya yang tersisa. David berusaha bangkit. Dan berusaha sekeras mungkin untuk membuktikan teorinya ini terhadap Epik lainnya.

Seri Reckoners ini merupakan peepaduan yang keren banget. Sanderson mampu meramu unsur komik yang terdapat di komik-komik Marvel dan DC menjadi satu kesatuan dengan setting Dystopia yang ciamik. Aku tidak bisa berhenti takjub oleh settingnya, yang berbeda-beda di setiap buku. Kegelapan di New Cago. Glowing in the Dark ala-ala Babilar. Atau pertumbuhan dari Ildithia. Semuanya menakjubkan. Penggambarannya terasa nyata. Serasa menonton film superhero secara langsung. Dan gak mungkin salah adaptasi, seperti film-film adaptasi buku yang sering kita jumpai *ya iyalah... orang terjadinya di otakmu sendiri tif*

Beruntung Noura sudah menerbitkan seluruh trilogy ini dalam waktu berdekatan. Kalau tidak... aku gak yakin aku bakal tahan. Soalnya nagih banget. Salah satu jenis buku yang harus di baca marathon. Kalo gak selesai. Gak bakal tenang lah hidup, gitu. hahahaha... lebay ya? Iya... emang. Karna aku suka banget ama ceritanya. Sebagai pecinta buku, komik, serial dan film superhero. Kalian wajib baca buku satu ini. Terserah kalian bakal menyukainya atau gak pada akhirnya. Yang penting kalian harus mencobanya.

Seri Reckoners memang telah tamat di buku Calamity ini. Tapi akankah cerita ini hanya berakhir di sini. Oh tidaak... Brandon Sanderson telah memastikan itu dengan mengumumkan seri terbarunya yang bernama The Apocalypse Guard akan mengambil setting di parallel universe yang berbeda dengan David. Tetapi tetap mengambil setting setelah Calamity. Bagi yang telah menamatkan seri Reckoners. Sudah pasti seri baru ini masuk kedalam daftar wajib baca. Bagi yg belum membaca seri Reckoners. Tenang saja. Apocalypse Guard akan mengambil cerita yang berbeda dengan Reckoners. TAG konon akan lebih menonjolkan sisi fantasinya ketimbang Reckoners. Dan aku berdoa semoga nanti TAG akan diterjemahkan juga di sini.

*ps: gambar Roti hanyalah pemanis buatan. Diciptakan untuk dimakan olehku. Jadi kalo kalian mau, beli sendiri...

Kamis, 12 Januari 2017

(Review) Magnus Chase #2 - Hammer of Thor by Rick Riordan.






- Judul: Hammer of Thor.  
- Seri: Magnus Chase and the Gods of Asgard.
- Seri ke: 2 (Dua).  
- Penulis: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.  
- Penyunting: Yuke Ratna P.  
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).  
- Tebal: 590 Halaman.  
- ISBN: 978-602-385-183-6.






- REVIEW:



~~~~~~Spoiler untuk yang belum membaca buku sebelumnya~~~~~~








Masalah nampaknya adalah sahabat sejati bagi Demigod mana pun. Gak peduli mereka Demigod Yunani kek, Romawi, bahkan Nordik.  Semuanya sama. Semuanya sama-sama bernasib sial. Magnus Chase adalah seorang Einherji, alias Roh pendekar pasukan abadi Dewa Odin. Eh! Roh? Iya... kalian gak salah liat. Magnus memang sudah mati. Setelah kematiannya yang heroik di buku pertamanya. Magnus diangkat menjadi seorang Einherji dan di bawa ke sebuah Hotel bernama Valhalla. Hotel di mana para pendekar Odin berkumpul sebelum terjadinya Ragnarok, sebutan untuk Kiamat versi bangsa Nordik.


Ngapain aja mereka di sana? Apakah kerjaan mereka cuma bersantai sambil ongkang-ongkang kapak? Tidak... para Einherjar tidak bisa hanya berdiam diri saja. Di hotel, setiap hari adalah latihan perang. Bahkan pelukan saja bisa mematikan. Saling membunuh adalah kegiatan rutin di hotel setiap harinya. Dan berapa kalipun mereka mati di hotel, mereka tetap akan kembali hidup beberapa jam kemudian. Lantas apa yang perlu ditakutkan oleh seorang Einherjar seperti Magnus. Banyak...


Mari kita usut, semuanya bermula karena sebuah undangan pernikahan yg disebar oleh Loki. Bagaimana bisa sebuah undangan mengacaukan hari-hari indah seorang Einherji macam Magnus? Dan apa pula hubungan antara undangan itu dan palu Thor yg hilang. Semua masalah ini diramu oleh Rick Riordan dengan lumayan Epik di buku Hammer of Thor ini. 


Menurutku buku kedua ini lebih bagus ketimbang buku pertamanya. Kenapa? Karena aku sudah mengenal Magnus, Sam, Blitz dan Hearth. Tapi ini juga karna si karakter barunya yang eksentrik. Oh iya... jangan lupa dengan Jack, si pedang ajaib yang doyan nyanyi itu. Perpaduan antara aksi dan humor memang selalu menjadi ramuan utama dari buku-buku Rick Riordan. Dia selalu berhasil membuat para Dewa-Dewi ini menunjukkan ketidak sempurnaannya. Sungguh... para dewa-dewa Nordik ini... gak ada bagus-bagusnya. Masih mending Dewa-Dewi Yunani deh. Mereka masih bisa dicintai. Sedangkan bangsa Asgard? Meh...


Ending dari buku ini seperti biasa... menampakkan cliffhanger. Khas Om Rick sekali pokoknya. Apalah buku-buku ini tanpa cliffhanger. Seolah-olah sayur tanpa garam, lah. Wkwkwkwk... sampai berjumpa di buku selanjutnya Magnus. Dan selamat bergabung di team. Wahai karakter baru. Aku gak sabar buat ketemu kalian lagi.

Senin, 14 November 2016

(Review) Red Queen #1 by Victoria Aveyard.






- Judul: Red Queen.  
- Seri: Red Queen.  
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Pengarang: Victoria Aveyard.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).  
- Penerjemah: Shinta Dewi.  
- Editor: Jia Effendi  
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).  
- Tebal: 525 Halaman (Ebook).  
- ISBN: 978-602-385-062-4.   
- Rating: 5/5 Stars.


- Review:



Buku aneh, kalau kalian bukan penyuka plot twist tak terduga dan akhir yang menggantung. Dianjurkan untuk tidak membaca Red Queen ini.
Ketika dunia memiliki tak hanya satu warna darah, melainkan dua. Yang satu berwarna merah seperti kita, Manusia biasa. Dan yang satu lagi perak, yang konon dipercayai sebagai keturunan para dewa. Para darah perak hampir selalu memiliki kekuatan super, entah itu manipulasi elemen seperti air, api dan besi. Memiliki tangan besar dengan kekuatan penghancur super. Bahkan sampai menguasai otak orang lain. Dan beragam kekuatan lainnya.


Di dunia seperti ini lah Mare Burrow hidup sebagai seorang pencuri berdarah merah. Walaupun dia adalah seorang merah, dia memiliki kekuatan, Kaki yang lebih lincah daripada kebanyakan orang, dan tangannya yang cepat merupakan kombinasi maut bagi para korbannya. Tetapi pencuri bukanlah sebuah pekerjaan yang dapat di akui oleh pemerintahan, dan dia juga bukanlah seorang murid magang. Dan itu membuat Mare terpaksa menyiapkan dirinya untuk mengikuti wajib militer, dan dikirim ke medan perang. Mare telah pasrah dengan keadaannya itu. Toh ayah dan ibunya masih memiliki sang adik, untuk berkerja. Tetapi ketika sahabat dan adiknya terlibat dalam sebuah masalah, seketika itu pula lah dunia Mare menjadi kacau balau.


Setelah di bingungkan dengan masalah-masalah yang menghampiri hidupnya. Pertemuannya dengan seorang pemuda bernama Cal memberinya sedikit harapan. Dalam waktu singkat Mare mendapatkan sebuah pekerjaan yang tidak pernah dia sangka. Yaitu berkerja di istana perak. Yah... walaupun hanya menjadi pembantu. Tapi Mare senang akan hal itu, tapi seolah takdir tak ingin membuat Mare tenang. Sesuatu  yang mengejutkan terjadi kembali tepat di saat pemilihan calon Ratu selanjutnya.


Waktu awal-awal aku membaca buku ini, aku sempat bingung. Kok ya kayak remeh banget gitu konfliknya. Si Mare kok kayak tergesa-gesa banget ikut dalam kelompok pemberontakan. Karena waktu di awal, aku melihat para kaum perak ini gak beringas-beringas amat kok ampe di musuhin sedemikian rupa sama si Mare. Memang sih wajib perang itu lebih banyak memakan korban di kalangan Merah ketimbang Perak. Tapi ya namanya perang mau gimana lagi gitu.
Baca-baca-baca... waktu aku sampai di beberapa bab terakhir, aku seperti ditampar oleh plot twist tak terduganya. Langsung saja aku menarik kembali perkataanku tentang konflik yang remeh itu. Seperti kata-kataku di awal tadi. Buku ini adalah sebuah buku yang aneh, aku yang biasanya dengan mudahnya jatuh cinta sama karakter di dalam novel, di buku ini berhasil di bikin gak suka sama siapa-siapa. Karena mengutip dari kata-kata yang sering diucapkan Mare dipikirannya, setiap orang bisa mengkhianati siapa pun. Aku gak bisa suka sama mereka, karena takut dikhianati *lebay mode on*. tapi setakut-takutnya aku sama plot twistnya yang kelewat sedap ini, harus aku akui kalo aku berhasil di bikin suka banget sama bukunya. Jadi apakah kalian masih mau mencoba buku yang satu ini?

Minggu, 30 Oktober 2016

(Review) The Reckoners Trilogy #2 - Firefight by Brandon Sanderson.

 





- Judul: Firefight.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 2 (Dua).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Editor: Rina Wulandari.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Rating: 5/5 Stars.  
- ISBN: 978-602-385-001-3.



Review:
(((SPOILER ALERT))) Buat yg belum baca buku sebelumnya.








Setelah berhasil mengalahkan Steelheart di buku sebelumnya. David terus melanjutkan misinya membunuh para Epik-Epik yang tak henti-hentinya mendatangi New Cago demi merebut posisi penguasa yang kini kosong. Para Reckoners telah berhasil menyingkirkan para Epik-Epik itu, sampai suatu kejadian membuat David sadar. Bahwa, ketika kelemahan seorang Epik telah terekspose, para Epik tak lebihnya seorang manusia biasa. Mereka juga takut akan kematian.


Setelah kejadian itu, David tak lagi berpikiran sama tentang para Epik. Menurut David, Mereka semua hanyalah korban dari kekuatan mereka sendiri. Dan mungkin saja, para Epik masih bisa diselamatkan dari sifat mereka yang cenderung merusak dan membunuh itu. Kalau saja mereka mau untuk tidak menggunakan kekuatan mereka untuk beberapa lama. Mungkin saja mereka bisa normal, seperti hal nya Prof. Jonathan dan Firefight yang selalu ada dipikiran David. Atau seperti itulah yang David kira.


Jujur saja, di awal-awal cerita, buku ini lumayan lambat. Berbeda dengan buku pertamanya yang beralur cepat. Buku ini perlu penghayatan yang berbeda, begitu aku sudah menemukan kliknya, boom.. aku langsung baca dengan kekuatan super. Dalam waktu setengah hari, buku ini langsung tamat. Dengan ending yang pas menurutku. Walaupun meninggalkan banyak pertanyaan ketika aku selesai membacanya.


Tapi apa gunanya coba kalo sebuah buku yang memiliki sekuel, jika di buku duanya menjawab semua misteri yang terjadi selama buku satu dan duanya. Jadi menurutku sangat wajar kalau endingnya gantung. Asalkan penerbitnya gak lama-lama banget ngeluarin buku ketiganya. Aku sih fine-fine aja.


Setting Firefight kali ini tak hanya berada di New Cago. Tapi kita juga akan berkenalan dengan kota baru bernama Babilar, alias Manhattan. Babilar adalah sebuah kota yang menarik menurutku. Dan iya, Babilar punya Steelheartnya sendiri. Aura kelamnya berbeda dari New Cago. Dan aku suka aura dari Babilar. Berasa kayak nonton bagian awal dari film X-Men yang Future Past itu.


Dan buat karakter barunya... aku rada kurang sreg sih ama beberapa orang. Karena seperti pengulangan karakter gitu. Contohnya kayak Tia dan Val. Yang bakal kalian liat sendiri deh nanti kalo udah baca nanti. Dan aku rindu Cody dan Abraham yang ada di bagian awalnya saja. Semoga mereka dapat porsi lebih banyak di buku ketiga.

Sekuel dari buku ini berjudul Calamity, iya.. seperti nama bintang merah yang berpendar itu. Yang membuat para manusia berubah menjadi Epik. Nah...  kayaknya aku udah kebanyakan nyerocos nih. Jadi segera saja kalian baca sendiri, dan rasakan sendiri gimana keseruannya berpetualang di kota Babilar.