Sabtu, 18 Februari 2017

(Review) Trials of Apollo #1 - The Hidden Oracle by Rick Riordan

- Judul: The Hidden Oracle.
- Seri: Trials of Apollo.
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Penulis: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Penyunting: Yuli Pritania.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Tebal: 464 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-230-7.
- Rating: 5/5 Stars.

- Review:

Iyaa... tau. Aku ngereview buku Om Rick lagi. Padahal kalian sudah tau kalo aku bakal muji-muji dia. Tapi... kalian salah kali ini. Setelah aku menyelesaikan buku ini. Aku malah pengen nyekek tuh Om. Tega bener ngorek-ngorek luka lama orang. Aku gak mau bilang apa sebabnya aku pengen nyekek si Om. Karena bakal spoiler parah. Jadi kalau kalian ingin tau apa yang membuat aku kesel. Baca aja sendiri.

Eeeeh... Jangan pergi dulu. Aku nggak bilang kalo buku ini gak bagus lho ya! Aku emang kesel, tapi bukan berarti aku gak suka *halah... tifa ribet*. Aku malah suka banget banget sama buku ini. Kenapa kalian bilang? Oke ini dia alasannya.

Setelah seri Heroes of Olympus berakhir. Kalian pasti berpikir, akhirnya perjalanan Percy Jackson dkk... berakhir juga. Dan akhirnya mereka bisa beristirahat dengan tenang. Wut... kalian salah. Di seri terbaru karya Rick Riordan kali ini, Rick mengambil tema yang berbeda dari biasanya. Kalau biasanya karakter utamanya selalu para Demigod, alias anak-anak para Dewa. Kali ini karakter utamanya adalah seorang Dewa. Dan Dewa itu adalah Apollo. Iyaaa... Dewa Apollo yang itu. Sang Dewa Matahari, Musik, Pengobatan, Panahan dll... itu. Dewa sok keren dan narsis ini, akhirnya tersandung juga. Berkat salah saorang cucunya (kalau kalian sudah membaca Seri Heroes of Olympus, kalian tau siapa yang aku maksud). Apollo mendapatkan kemarahan dari Ayahnya, Dewa Zeus, sang Dewa langit. Dan di kutuk menjadi manusia biasa dan dilemparkan langsung dari Olympus ke tempat sampah.

Sudah cukup apes kah seorang Dewa matahari dijatuhkan dari langit dan mendarat ke tempat sampah? Jawabannya belum. Ketika terjatuh, Apollo menyadari satu hal. Dia tak bisa terbang, tidak juga bisa berubah wujud. Padahal biasanya dirinya dapat dengan mudah berubah bentuk. Dan semuanya langsung menghantam dirinya. Apollo tak lagi menyandang gelar dewanya. Dia terjatuh sebagai manusia fana biasa, bernama Lester Papadopoulos.

Setelah menyadari kondisinya, Apollo terpaksa harus mencari bantuan. Dan cuman ada satu tempat di dekat sini yang menyediakan itu. Camp Half-Blood, alias perkemahan Blasteran.

Setelah seri PJO. Camp Half-Blood sangat jarang ditampilkan lagi. Karna di seri HoO, Ketujuh Demigod mesti jalan-jalan lintas negara demi merampungkan ramalan mereka. Jadi mereka hanya bisa sebentar saja berada di Camp. Dan buat kalian yang merindukan suasana Camp Half-Blood, kalian akan merasakan sensasi pulang kerumah di seri ini. Karena kita bakalan di manjakan dengan pemandangan Camp yang sudah sangat kalian rindukan. Kita bakalan bertemu dengan beberapa pekemah lama, dan para pekemah baru yang aku belum sempat hapalin nama-namanya ini.

Jadi bagaimana? Akankah kalian sanggup menghadapi kegalauan sang Dewa. Segera lah adopsi buku terbaru karya Rick Riordan ini. Dan rasakan sendiri sensasinya.    

Kamis, 09 Februari 2017

(Review) Reckoners Trilogy #3 - Calamity by Brandon Sanderson.

- Judul: Calamity.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 3 (Tiga).
- Pengarang: Brandon Sanderson.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Penyunting: Lisa Indriyana.
- Penerbit: Noura Books.
- Tebal: 574 Halaman.
- ISBN: 978-602-385-166-9
- Rating: 5/5 stars.

- Review:

Kehidupan setelah Calamity tidak lah seterang cahayanya. Dunia kini porak poranda akibat keberadaan para Epik yang saling memperebutkan kekuasaan. Bahkan setelah satu dekade berlalu sejak Calamity muncul. David yang merupakan seorang anggota Reckoners, sekelompok manusia biasa yang berusaha memerangi Epik. kini harus berjuang dengan gigih melanjutkan misi mustahil mereka, yaitu mencoba untuk menyadarkan para Epik dari efek kegelapan yang merasuki pikiran mereka. David sadar, bahwa dengan membunuh para Epik saja, itu tidak akan cukup untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik. David harus berusaha untuk menyadarkan mereka. Tapi bagaimana caranya? David memang memiliki satu teori yang dapat mengusir kegelapan yang dimiliki oleh para Epik. Tapi teori ini baru pernah dia uji kepada satu Epik saja. Apa David benar-benar bisa percaya dengan teorinya tersebut, dan berani kah dia mempertaruhkan nasib teman-teman sesama Reckonersnya demi teorinya ini.

Misi terbaru para Reckoners ini tidaklah mudah. Apalagi sepeninggal Jonathan Paedrus, sang pendiri Reckoners. David pun memeberanikan diri mengambil alih komando untuk memimpin Reckoners. Dan bersama teamnya yang tersisa. David berusaha bangkit. Dan berusaha sekeras mungkin untuk membuktikan teorinya ini terhadap Epik lainnya.

Seri Reckoners ini merupakan peepaduan yang keren banget. Sanderson mampu meramu unsur komik yang terdapat di komik-komik Marvel dan DC menjadi satu kesatuan dengan setting Dystopia yang ciamik. Aku tidak bisa berhenti takjub oleh settingnya, yang berbeda-beda di setiap buku. Kegelapan di New Cago. Glowing in the Dark ala-ala Babilar. Atau pertumbuhan dari Ildithia. Semuanya menakjubkan. Penggambarannya terasa nyata. Serasa menonton film superhero secara langsung. Dan gak mungkin salah adaptasi, seperti film-film adaptasi buku yang sering kita jumpai *ya iyalah... orang terjadinya di otakmu sendiri tif*

Beruntung Noura sudah menerbitkan seluruh trilogy ini dalam waktu berdekatan. Kalau tidak... aku gak yakin aku bakal tahan. Soalnya nagih banget. Salah satu jenis buku yang harus di baca marathon. Kalo gak selesai. Gak bakal tenang lah hidup, gitu. hahahaha... lebay ya? Iya... emang. Karna aku suka banget ama ceritanya. Sebagai pecinta buku, komik, serial dan film superhero. Kalian wajib baca buku satu ini. Terserah kalian bakal menyukainya atau gak pada akhirnya. Yang penting kalian harus mencobanya.

Seri Reckoners memang telah tamat di buku Calamity ini. Tapi akankah cerita ini hanya berakhir di sini. Oh tidaak... Brandon Sanderson telah memastikan itu dengan mengumumkan seri terbarunya yang bernama The Apocalypse Guard akan mengambil setting di parallel universe yang berbeda dengan David. Tetapi tetap mengambil setting setelah Calamity. Bagi yang telah menamatkan seri Reckoners. Sudah pasti seri baru ini masuk kedalam daftar wajib baca. Bagi yg belum membaca seri Reckoners. Tenang saja. Apocalypse Guard akan mengambil cerita yang berbeda dengan Reckoners. TAG konon akan lebih menonjolkan sisi fantasinya ketimbang Reckoners. Dan aku berdoa semoga nanti TAG akan diterjemahkan juga di sini.

*ps: gambar Roti hanyalah pemanis buatan. Diciptakan untuk dimakan olehku. Jadi kalo kalian mau, beli sendiri...

Kamis, 12 Januari 2017

(Review) Magnus Chase #2 - Hammer of Thor by Rick Riordan.






- Judul: Hammer of Thor.  
- Seri: Magnus Chase and the Gods of Asgard.
- Seri ke: 2 (Dua).  
- Penulis: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.  
- Penyunting: Yuke Ratna P.  
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).  
- Tebal: 590 Halaman.  
- ISBN: 978-602-385-183-6.






- REVIEW:



~~~~~~Spoiler untuk yang belum membaca buku sebelumnya~~~~~~








Masalah nampaknya adalah sahabat sejati bagi Demigod mana pun. Gak peduli mereka Demigod Yunani kek, Romawi, bahkan Nordik.  Semuanya sama. Semuanya sama-sama bernasib sial. Magnus Chase adalah seorang Einherji, alias Roh pendekar pasukan abadi Dewa Odin. Eh! Roh? Iya... kalian gak salah liat. Magnus memang sudah mati. Setelah kematiannya yang heroik di buku pertamanya. Magnus diangkat menjadi seorang Einherji dan di bawa ke sebuah Hotel bernama Valhalla. Hotel di mana para pendekar Odin berkumpul sebelum terjadinya Ragnarok, sebutan untuk Kiamat versi bangsa Nordik.


Ngapain aja mereka di sana? Apakah kerjaan mereka cuma bersantai sambil ongkang-ongkang kapak? Tidak... para Einherjar tidak bisa hanya berdiam diri saja. Di hotel, setiap hari adalah latihan perang. Bahkan pelukan saja bisa mematikan. Saling membunuh adalah kegiatan rutin di hotel setiap harinya. Dan berapa kalipun mereka mati di hotel, mereka tetap akan kembali hidup beberapa jam kemudian. Lantas apa yang perlu ditakutkan oleh seorang Einherjar seperti Magnus. Banyak...


Mari kita usut, semuanya bermula karena sebuah undangan pernikahan yg disebar oleh Loki. Bagaimana bisa sebuah undangan mengacaukan hari-hari indah seorang Einherji macam Magnus? Dan apa pula hubungan antara undangan itu dan palu Thor yg hilang. Semua masalah ini diramu oleh Rick Riordan dengan lumayan Epik di buku Hammer of Thor ini. 


Menurutku buku kedua ini lebih bagus ketimbang buku pertamanya. Kenapa? Karena aku sudah mengenal Magnus, Sam, Blitz dan Hearth. Tapi ini juga karna si karakter barunya yang eksentrik. Oh iya... jangan lupa dengan Jack, si pedang ajaib yang doyan nyanyi itu. Perpaduan antara aksi dan humor memang selalu menjadi ramuan utama dari buku-buku Rick Riordan. Dia selalu berhasil membuat para Dewa-Dewi ini menunjukkan ketidak sempurnaannya. Sungguh... para dewa-dewa Nordik ini... gak ada bagus-bagusnya. Masih mending Dewa-Dewi Yunani deh. Mereka masih bisa dicintai. Sedangkan bangsa Asgard? Meh...


Ending dari buku ini seperti biasa... menampakkan cliffhanger. Khas Om Rick sekali pokoknya. Apalah buku-buku ini tanpa cliffhanger. Seolah-olah sayur tanpa garam, lah. Wkwkwkwk... sampai berjumpa di buku selanjutnya Magnus. Dan selamat bergabung di team. Wahai karakter baru. Aku gak sabar buat ketemu kalian lagi.

Senin, 14 November 2016

(Review) Red Queen #1 by Victoria Aveyard.






- Judul: Red Queen.  
- Seri: Red Queen.  
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Pengarang: Victoria Aveyard.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).  
- Penerjemah: Shinta Dewi.  
- Editor: Jia Effendi  
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).  
- Tebal: 525 Halaman (Ebook).  
- ISBN: 978-602-385-062-4.   
- Rating: 5/5 Stars.


- Review:



Buku aneh, kalau kalian bukan penyuka plot twist tak terduga dan akhir yang menggantung. Dianjurkan untuk tidak membaca Red Queen ini.
Ketika dunia memiliki tak hanya satu warna darah, melainkan dua. Yang satu berwarna merah seperti kita, Manusia biasa. Dan yang satu lagi perak, yang konon dipercayai sebagai keturunan para dewa. Para darah perak hampir selalu memiliki kekuatan super, entah itu manipulasi elemen seperti air, api dan besi. Memiliki tangan besar dengan kekuatan penghancur super. Bahkan sampai menguasai otak orang lain. Dan beragam kekuatan lainnya.


Di dunia seperti ini lah Mare Burrow hidup sebagai seorang pencuri berdarah merah. Walaupun dia adalah seorang merah, dia memiliki kekuatan, Kaki yang lebih lincah daripada kebanyakan orang, dan tangannya yang cepat merupakan kombinasi maut bagi para korbannya. Tetapi pencuri bukanlah sebuah pekerjaan yang dapat di akui oleh pemerintahan, dan dia juga bukanlah seorang murid magang. Dan itu membuat Mare terpaksa menyiapkan dirinya untuk mengikuti wajib militer, dan dikirim ke medan perang. Mare telah pasrah dengan keadaannya itu. Toh ayah dan ibunya masih memiliki sang adik, untuk berkerja. Tetapi ketika sahabat dan adiknya terlibat dalam sebuah masalah, seketika itu pula lah dunia Mare menjadi kacau balau.


Setelah di bingungkan dengan masalah-masalah yang menghampiri hidupnya. Pertemuannya dengan seorang pemuda bernama Cal memberinya sedikit harapan. Dalam waktu singkat Mare mendapatkan sebuah pekerjaan yang tidak pernah dia sangka. Yaitu berkerja di istana perak. Yah... walaupun hanya menjadi pembantu. Tapi Mare senang akan hal itu, tapi seolah takdir tak ingin membuat Mare tenang. Sesuatu  yang mengejutkan terjadi kembali tepat di saat pemilihan calon Ratu selanjutnya.


Waktu awal-awal aku membaca buku ini, aku sempat bingung. Kok ya kayak remeh banget gitu konfliknya. Si Mare kok kayak tergesa-gesa banget ikut dalam kelompok pemberontakan. Karena waktu di awal, aku melihat para kaum perak ini gak beringas-beringas amat kok ampe di musuhin sedemikian rupa sama si Mare. Memang sih wajib perang itu lebih banyak memakan korban di kalangan Merah ketimbang Perak. Tapi ya namanya perang mau gimana lagi gitu.
Baca-baca-baca... waktu aku sampai di beberapa bab terakhir, aku seperti ditampar oleh plot twist tak terduganya. Langsung saja aku menarik kembali perkataanku tentang konflik yang remeh itu. Seperti kata-kataku di awal tadi. Buku ini adalah sebuah buku yang aneh, aku yang biasanya dengan mudahnya jatuh cinta sama karakter di dalam novel, di buku ini berhasil di bikin gak suka sama siapa-siapa. Karena mengutip dari kata-kata yang sering diucapkan Mare dipikirannya, setiap orang bisa mengkhianati siapa pun. Aku gak bisa suka sama mereka, karena takut dikhianati *lebay mode on*. tapi setakut-takutnya aku sama plot twistnya yang kelewat sedap ini, harus aku akui kalo aku berhasil di bikin suka banget sama bukunya. Jadi apakah kalian masih mau mencoba buku yang satu ini?

Minggu, 30 Oktober 2016

(Review) The Reckoners Trilogy #2 - Firefight by Brandon Sanderson.

 





- Judul: Firefight.
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 2 (Dua).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Putra Nugroho.
- Editor: Rina Wulandari.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Rating: 5/5 Stars.  
- ISBN: 978-602-385-001-3.



Review:
(((SPOILER ALERT))) Buat yg belum baca buku sebelumnya.








Setelah berhasil mengalahkan Steelheart di buku sebelumnya. David terus melanjutkan misinya membunuh para Epik-Epik yang tak henti-hentinya mendatangi New Cago demi merebut posisi penguasa yang kini kosong. Para Reckoners telah berhasil menyingkirkan para Epik-Epik itu, sampai suatu kejadian membuat David sadar. Bahwa, ketika kelemahan seorang Epik telah terekspose, para Epik tak lebihnya seorang manusia biasa. Mereka juga takut akan kematian.


Setelah kejadian itu, David tak lagi berpikiran sama tentang para Epik. Menurut David, Mereka semua hanyalah korban dari kekuatan mereka sendiri. Dan mungkin saja, para Epik masih bisa diselamatkan dari sifat mereka yang cenderung merusak dan membunuh itu. Kalau saja mereka mau untuk tidak menggunakan kekuatan mereka untuk beberapa lama. Mungkin saja mereka bisa normal, seperti hal nya Prof. Jonathan dan Firefight yang selalu ada dipikiran David. Atau seperti itulah yang David kira.


Jujur saja, di awal-awal cerita, buku ini lumayan lambat. Berbeda dengan buku pertamanya yang beralur cepat. Buku ini perlu penghayatan yang berbeda, begitu aku sudah menemukan kliknya, boom.. aku langsung baca dengan kekuatan super. Dalam waktu setengah hari, buku ini langsung tamat. Dengan ending yang pas menurutku. Walaupun meninggalkan banyak pertanyaan ketika aku selesai membacanya.


Tapi apa gunanya coba kalo sebuah buku yang memiliki sekuel, jika di buku duanya menjawab semua misteri yang terjadi selama buku satu dan duanya. Jadi menurutku sangat wajar kalau endingnya gantung. Asalkan penerbitnya gak lama-lama banget ngeluarin buku ketiganya. Aku sih fine-fine aja.


Setting Firefight kali ini tak hanya berada di New Cago. Tapi kita juga akan berkenalan dengan kota baru bernama Babilar, alias Manhattan. Babilar adalah sebuah kota yang menarik menurutku. Dan iya, Babilar punya Steelheartnya sendiri. Aura kelamnya berbeda dari New Cago. Dan aku suka aura dari Babilar. Berasa kayak nonton bagian awal dari film X-Men yang Future Past itu.


Dan buat karakter barunya... aku rada kurang sreg sih ama beberapa orang. Karena seperti pengulangan karakter gitu. Contohnya kayak Tia dan Val. Yang bakal kalian liat sendiri deh nanti kalo udah baca nanti. Dan aku rindu Cody dan Abraham yang ada di bagian awalnya saja. Semoga mereka dapat porsi lebih banyak di buku ketiga.

Sekuel dari buku ini berjudul Calamity, iya.. seperti nama bintang merah yang berpendar itu. Yang membuat para manusia berubah menjadi Epik. Nah...  kayaknya aku udah kebanyakan nyerocos nih. Jadi segera saja kalian baca sendiri, dan rasakan sendiri gimana keseruannya berpetualang di kota Babilar. 

Sabtu, 22 Oktober 2016

(Review) The Reckoners #1 - Steelheart by Brandon Sanderson.

 




- Judul: Steelheart.  
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 1 (Satu).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).  
- Penerbit: Nourabooks.  
- Penerjemah: Putra Nugroho.   
- Editor: Rina Wulandari   
Tebal: 577 Halaman (Ebook).  
- Beli Via: Play Book.  
- Rating: 5/5 Stars.




- Review:



Ini merupakan buku pertama Brandon Sanderson yang aku baca. Dan aku langsung jatuh cinta dengan tulisan om satu ini. Buku pertama dari trilogi The Reckoners ini menceritakan tentang Sekelompok manusia melawan para Epik. Pertama-tama, biar aku jelaskan dulu apa itu Epik. Epik adalah para manusia terpilih memiliki kekuatan super akibat terkena reaksi dari Calamity. Dan apa pula Calamity itu? Calamity adalah sebuah bintang berwarna merah yang tiba-tiba muncul di langit bumi. Itu adalah satu-satunya bintang paling merah yang terlihat di bumi. Dan setelah kemunculannya, membuat sebagian dari manusia memiliki kekuatan super.


Menurut kalian pasti keren ya kalo bumi dipenuhi oleh para Pahlawan super. Sayangnya, semua Epik yang pernah David temui semuanya adalah penjahat. Tidak ada satu pun Epik yang baik. Semuanya ingin mendominasi, dan para Epik-Epik itu saling melawan satu sama lain demi menguasai satu wilayah tertentu. Dan untuk kota yang didiami oleh David, Newcago. Epik paling berkuasa di sana adalah Steelheart. Seorang Epik berkekuatan super, berkulit baja dan lain-lain. Terdengar seperti Superman ya? Iya... menurutku dia  memang seperti Superman. Tetapi Superman versi jahat, tentunya.


Selama tahun-tahun awal setelah kemunculan Calamity, dunia belumlah sesuram sekarang. Masih banyak manusia yang berusaha melawan para Epik yang melanggar hukum. Setelah peristiwa yang dikenang sebagai Aneksasi, kejadian di mana Steelheart menunjukkan kemurkaannya dengan mengubah seluruh bangunan menjadi baja, kemarahan Steelheart terpancing karena suatu alasan. Dan karena amukan Steelheart, David kehilangan sang Ayah. Dunia di sekeliling David mulai berubah. Orang-orang mulai menyerah. Mereka kini hanya menganggap kejahatan apapun yang diperbuat oleh para Epik seperti bencana alam. Tidak ada Epik yang akan dihukum karena kejahatan mereka. Karena manusia terlalu takut dengan para Epik.


Sepuluh tahun setelah peristiwa Aneksasi. David telah berusia 18 tahun, dan selama 10 tahun itu juga lah David menghabiskan waktu dari hidupnya untuk meneliti semua Epik yang bisa dia tau. David menyelidiki apapun tentang Epik mana pun. Dari kekuatan mereka, sampai dugaan kelemahan dari para Epik itu. Dia melakukan itu demi keinginannya membalaskan kematian sang ayah yang di bunuh oleh Salah satu High Epik. David berusaha keras untuk tujuannya tersebut. Dan salah satu cara agar keinginannya melawan Epik tersebut bisa terwujud. Dia harus bergabung dengan kelompok Reckoners. Satu-satunya kelompok manusia yang masih terus melawan sampai sekarang.


Dari awal buku aku sudah sangat menikmati buku ini. Karna pada dasarnya aku menyukai tema pengguna kekuatan super. Walaupun kali ini pemilik kekutan tersebut adalah para penjahatnya. Plot twistnya ya ampun... dahsyat banget. Dari awal aku sama sekali gak menduga kalau kejadian macam itu bisa terjadi. Syut... tapi ajib bangeet. Pokoknya bikin aku suka banget-banget lah ama seri ini XD.


Awalnya Trilogy Reckoners ini bukanlah wishlist utama ku. Karna tetiba aku dapet buntelan dari Noura berupa Firefight, buku kedua dari trilogy ini. Terpaksalah aku majuin buku ini keposisi teratas di list buku yang harus aku baca. Dan setelah melihat ending seperti ini. Aku merasa bersyukur bisa kenalan ama David yang memiliki selera membuat metafora yang aneh dan amburadul. Megan, si cewek misterius yang membuat David berdebar. Cody si penembak jitu yang penuh kejutan, dengan cara yang lucu. Dan para Epik yang kekuatannya bikin geleng-geleng pala. Huaaah... aku puas dengan buku satu ini. Saatnya melanjutkan petualangan David di buku keduanya, Firrfight.

Selasa, 23 Agustus 2016

(Review) Cinder - Lunar Chronicles #1 by Marissa Meyer.

- Judul: Cinder.
- Seri: Lunar Chronicles.
- Seri Ke: 1 (Satu).
- Penulis: Marissa Meyer.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).
- Penerjemah: Yudith Listiandri
- Editor: Selsa Chintya
- Penerbit: Spring.
- Tebal: 384 Halaman.
- ISBN: 9786027150546.

Review:

Bayangkan... dongeng tentang para putri yang sudah sering kita dengar namanya seperti Cinderella. Red Riding Hood alias si Tudung Merah. Rapunzel. Dan Snow White di retelling, atau di ceritakan ulang, dengan gaya distopia dan sci-fi. Bagaimana mungkin ini tidak menarik perhatian para pecinta fairytale atau dongeng-dongeng macam aku.

Awalnya aku memang tidak begitu tertarik dengan seri ini karena pertama, aku masih punya banyak buku yg belum aku baca. Kedua, siapa tau buku ini  bahasanya tidak cocok untukku. Tapi setelah melihat semua teman-temanku *eh... gak semuanya juga ding* nyaranin aku baca seri ini. Dan iya... mereka heboh banget berebut cowok-cowok ganteng yang ada di sini. *lalu thifa di sambit*. Aku pun mulai tertarik. Apalagi ditambah aku tak harus membeli buku pertamanya, Cinder ini, karena dapat hibahan langsung dari penerbitnya. Maka tak ada alasan buatku untuk tidak mencobanya. Dan benar saja, memang tidak salah keputusanku untuk mencoba Cinder.

Sesuai tebakan kalian, Cinder merupakan retelling dari kisah Cinderella. Dia punya Ibu tiri, atau dalam kasus kali ini ibu angkat, yang selalu menyuruhnya berkerja, cek. Dua saudari angkat, cek. Seorang pangeran yang jatuh hati padanya, cek. Pesta dansa, dan sepatu yang tertinggal setelah pesta dansa juga cek. Trus apa yang membedakan antara Cinderella yang original dengan si Cinder ini? Banyaak...

Kalau biasanya Cinderella hanya lah seorang gadis rumahan yang kerjaannya pegang sapu ama kain pel mulu. Sedangkan Cinder yang merupakan seorang Cyborg, bekerja sebagai mekanik, dia terkenal akan keahliannya dalam urusan memperbaiki mesin dan Cinder mempunyai sebuah toko di pasar New Beijing. Kalau aku teruskan menjelaskan perbedaan antara Cinderella yang klasik dan Cinder ini. Takutnya aku bakal nyerocos terus tanpa memedulikan Spoiler yang tumpah ruah sana-sini. Huahahaha...

Sejarah diantara para tokoh-tokohnya diatur dengan rapi. Si ini dengan si itu, si itu dan yang lainnya. Semakin bertambah lembaran yang aku baca, semakin banyak petunjuk tentang sejarah mereka yang terungkap. Dan pengungkapannya itu memang sering tertebak. Tapi itu tidak mengurangi keseruan membaca cerita ini.

Pokoknya, buat kalian yang berencana ingin menyicipi seri Lunar Chronicles ini, aku tanya pada kalian dulu. Kalian suka baca manga? Kalian suka baca atau menonton cerita fairytale? Kalian suka novel bergenre dystopia? Maka kalian akan cocok dengan novel ini. Jangan ragu, jangan bimbang. Baca aja, nikmati... begitu kalian sudah menemukan sesuatu yang klik dengan seri ini, kalian sudah pasti akan jatuh hati dengan mereka semua.

Ketika aku menulis review ini, aku sedang membaca Winter. Buku ke empat dari Lunar Chronicles. Jadi udah tertebak kan bahwa aku ngebut banget baca seri ini. Udah dulu ah kicauanku. Sampai jumpa di review berikutnya. Kemungkinan besar sih review Scarlet, Cress dan Winter.