Sabtu, 22 Oktober 2016

(Review) The Reckoners #1 - Steelheart by Brandon Sanderson.

 




- Judul: Steelheart.  
- Seri: The Reckoners.
- Seri ke: 1 (Satu).  
- Pengarang: Brandon Sanderson.  
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan).  
- Penerbit: Nourabooks.  
- Penerjemah: Putra Nugroho.   
- Editor: Rina Wulandari   
Tebal: 577 Halaman (Ebook).  
- Beli Via: Play Book.  
- Rating: 5/5 Stars.




- Review:



Ini merupakan buku pertama Brandon Sanderson yang aku baca. Dan aku langsung jatuh cinta dengan tulisan om satu ini. Buku pertama dari trilogi The Reckoners ini menceritakan tentang Sekelompok manusia melawan para Epik. Pertama-tama, biar aku jelaskan dulu apa itu Epik. Epik adalah para manusia terpilih memiliki kekuatan super akibat terkena reaksi dari Calamity. Dan apa pula Calamity itu? Calamity adalah sebuah bintang berwarna merah yang tiba-tiba muncul di langit bumi. Itu adalah satu-satunya bintang paling merah yang terlihat di bumi. Dan setelah kemunculannya, membuat sebagian dari manusia memiliki kekuatan super.


Menurut kalian pasti keren ya kalo bumi dipenuhi oleh para Pahlawan super. Sayangnya, semua Epik yang pernah David temui semuanya adalah penjahat. Tidak ada satu pun Epik yang baik. Semuanya ingin mendominasi, dan para Epik-Epik itu saling melawan satu sama lain demi menguasai satu wilayah tertentu. Dan untuk kota yang didiami oleh David, Newcago. Epik paling berkuasa di sana adalah Steelheart. Seorang Epik berkekuatan super, berkulit baja dan lain-lain. Terdengar seperti Superman ya? Iya... menurutku dia  memang seperti Superman. Tetapi Superman versi jahat, tentunya.


Selama tahun-tahun awal setelah kemunculan Calamity, dunia belumlah sesuram sekarang. Masih banyak manusia yang berusaha melawan para Epik yang melanggar hukum. Setelah peristiwa yang dikenang sebagai Aneksasi, kejadian di mana Steelheart menunjukkan kemurkaannya dengan mengubah seluruh bangunan menjadi baja, kemarahan Steelheart terpancing karena suatu alasan. Dan karena amukan Steelheart, David kehilangan sang Ayah. Dunia di sekeliling David mulai berubah. Orang-orang mulai menyerah. Mereka kini hanya menganggap kejahatan apapun yang diperbuat oleh para Epik seperti bencana alam. Tidak ada Epik yang akan dihukum karena kejahatan mereka. Karena manusia terlalu takut dengan para Epik.


Sepuluh tahun setelah peristiwa Aneksasi. David telah berusia 18 tahun, dan selama 10 tahun itu juga lah David menghabiskan waktu dari hidupnya untuk meneliti semua Epik yang bisa dia tau. David menyelidiki apapun tentang Epik mana pun. Dari kekuatan mereka, sampai dugaan kelemahan dari para Epik itu. Dia melakukan itu demi keinginannya membalaskan kematian sang ayah yang di bunuh oleh Salah satu High Epik. David berusaha keras untuk tujuannya tersebut. Dan salah satu cara agar keinginannya melawan Epik tersebut bisa terwujud. Dia harus bergabung dengan kelompok Reckoners. Satu-satunya kelompok manusia yang masih terus melawan sampai sekarang.


Dari awal buku aku sudah sangat menikmati buku ini. Karna pada dasarnya aku menyukai tema pengguna kekuatan super. Walaupun kali ini pemilik kekutan tersebut adalah para penjahatnya. Plot twistnya ya ampun... dahsyat banget. Dari awal aku sama sekali gak menduga kalau kejadian macam itu bisa terjadi. Syut... tapi ajib bangeet. Pokoknya bikin aku suka banget-banget lah ama seri ini XD.


Awalnya Trilogy Reckoners ini bukanlah wishlist utama ku. Karna tetiba aku dapet buntelan dari Noura berupa Firefight, buku kedua dari trilogy ini. Terpaksalah aku majuin buku ini keposisi teratas di list buku yang harus aku baca. Dan setelah melihat ending seperti ini. Aku merasa bersyukur bisa kenalan ama David yang memiliki selera membuat metafora yang aneh dan amburadul. Megan, si cewek misterius yang membuat David berdebar. Cody si penembak jitu yang penuh kejutan, dengan cara yang lucu. Dan para Epik yang kekuatannya bikin geleng-geleng pala. Huaaah... aku puas dengan buku satu ini. Saatnya melanjutkan petualangan David di buku keduanya, Firrfight.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar